Fiona yang tengah tertidur dikamarnya, terbangun
dari tidur malamnya. Saat itu pukul tengah malam lewat. Tanpa sadar pandangan
Fiona tertuju pada sosok pria yang berdiri didepan pintu kamarnya. Pria
jangkung dengan badan yang atletis itu berdiri mematung didepan pintu kamar
Fiona. Pandangan matanya yang kosong sedang menatap Fiona. Bibir pucat dan
wajah dingin itu seolah-olah ada yang berbeda dengan pria itu. Entah dari mana
pria itu bisa masuk kekamar Fiona. Fiona yang melihat heran dan masih tak
percaya akan kehadiran pria itupun menghampiri sambil mengucek-ngucek matanya.
Sesaat setelah itu akhirnya Fiona menyadari pria yang berdiri dihadapannya
sekarang itu adalah Gerald Firnando. Ia adalah teman SMA Fiona yang belum
pernah ditemuinya setelah kelulusan sekolahnya pada saat itu. Fiona menatap
pria itu dengan seksama, Fiona berfikir apakah ia sedang bermimpi bisa bertemu
Gerald. Pria yang sudah lama tak ditemuinya. Pria itu tetap berdiri mematung
dihadapan Fiona.
“Gerald?” panggil Fiona dengan ekpresi heran.
Mungkin Fiona berfikir darimana pria itu bisa masuk kedalam kamarnya apalagi
pada waktu tengah malam begini. Dimana orang-orang beristirahat untuk tidur. Tapi
pria itu tidak menjawab.
“lo Gerald kan? Kenapa lo ada disini? Terus
bagaimana bisa lo masuk kekamar gue?” Tanya Fiona bertubi-tubi sambil
mengguncang-guncang tubuh pria dihadapannya itu. Tatapan matanya yang kosong,
bibir pucat dan wajah dingin itu membuat bulu kuduk Fiona berdiri seketika.
Fiona yang mulai ketakutan dengan siapa yang ia temui mulai memukul-mukul
pipinya berharap bahwa semua ini hanya mimpi, namun kenyataannya tidak.
“maafin
gue”
kata pria itu yang akhirnya membuka suara. suara pria yang berdiri dihadapan
Fiona terdengar datar dan dingin.
“mma..mmaksud loo aaa..ppa? Kk..Kenapa lo harus mmminta
mmmaaf?” Tanya Fiona dengan suara agak tergagap-gagap.
“maafin
gue karena gue ga bisa nemuin dia buat lo” setelah kalimat
terakhir yang diucapkan pria itu, tiba-tiba pria itu menghilang dihadapan
Fiona. Fiona yang melihat kejadian itu pun syok dan berteriak sekuat-kuatnya.
Fiona pun terbangun dari mimpinya. Wajahnya yang panik dan keringat yang mulai
membasahi dahinya menandakan bahwa Fiona sedang mimpi buruk. Mimpi bertemu
dengan hantu mirip Gerald. Malam itu Fiona tidak bisa tidur dan takut mimpi
buruk lagi. Tapi apa maksud Gerald berkata seperti itu?
*
Dua hari setelah kejadian mimpi buruk yang dialami
Fiona, Fiona mendapat kabar bahwa teman SMA nya bernama Gerald meninggal dunia
akibat tumor otak yang dideritanya setahun belakangan ini. Fiona yang mendengar
kabar itu langsung mengunjungi rumah Gerald dan ikut memakamkannya. Fiona yang
kini berada dirumah almarhum Gerald, tiba-tiba ibu Gerald menghampirinya dan
membawanya kesebuah kamar. Kamar itu adalah kamar Gerald Firnando, karena
didinding kamarnya terpampang foto-foto Gerald yang sedang bermain futsal
dengan teman-temanya. Wajahnya yang ceria menghiasi disetiap foto dikamar itu.
“kamu yang namanya Fiona kan?” Tanya ibu Gerald
sambil membawa Fiona duduk di kasur di
kamar itu.
“ iya tante aku Fiona. Ada apa tan?”
“ada surat dari Gerald. Tante menemukan ini dilaci
kamarnya. Dan disitu tertulis nama kamu. Mungkin ini untuk kamu.” Ibu Gerald
memberikan surat kepada Fiona yang di ambilnya dari laci itu.
Surat? Pikir Fiona. Fiona yang ditinggal sendiri
oleh ibu Gerald dikamar itu. Fiona memandangi surat yang ia pegang. Dan
perlahan membuka dan mulai membacanya.
Hi Fiona
Gimana kabar lo? Gue harap lo baik-baik ajah! Semenjak
lo sms gue waktu itu, gue seneng banget. Gue udah lama cari nomer lo tapi ga
ketemu. apa lo masih inget janji itu? Janji dimana gue akan ketemuin lo sama
dia. Gue minta maaf karena gue ga bisa nepatin janji gue itu. Semenjak lo minta
tolong cariin dia ke gue, semenjak itu juga gue cari dia dimanapun yang gue
tau. Tapi hasilnya nihil. Walaupun hasilnya nihil gue tetep berusaha nyariin
dia buat lo selagi tubuh ini sehat. Tujuan gue nulis surat ini sebenernya buat
jaga-jaga. Jaga-jaga kalo gue ga bisa cari dia untuk selamanya. Semenjak gue
tau gue menderita tumor otak, gue mulai pesimis untuk hidup. Dan… gue takut ga bisa ketemu lo lagi. Jujur gue ngelakuin
ini semua karena… aku sayang sama kamu Fi.
Gue tau ini kedengeran konyol, tapi perasaan gue ini masih sama kaya dulu.
Walaupun lo ga pernah menyadarinya. Gue pengen lo tau, aku cinta kamu melebihi cinta kamu ke dia…
GERALD
Fiona menyesali semua yang terjadi. Seandainya ia
tidak pernah meminta tolong untuk mencari seseorang yang tidak pernah ada
kepada Gerald, mungkin Gerald tidak akan mati. Air mata Fiona tak bisa terbendung
lagi. Ia menangis tersedu-sedu dan matanya menerawang keluar jendela kamar
Gerald. Seandainya ia dulu menyadari perasaan Gerald mungkin Gerald sekarang
bersamanya.
*The
end*