Daftar Blog Saya

Selasa, 15 Januari 2013

Aku Masih Mencintaimu, Kak!



Kring… kring... kring… terdengar suara telpon rumahku berdering, yang berada di sudut rumahku dekat lemari berisi penyimpanan gelas-gelas antik koleksi mamaku. Waktu menunjukkan hampir tengah malam. Orang-orang dirumahku sudah tidur semua. Cuman aku yang masih terjaga. Kamarku yang berada dilantai atas dan letak telpon rumahku yang berada dilantai bawah, mengharuskan aku untuk turun kebawah dan ingin memaki seseorang yang menelpon orang larut malam. Kumulai menuruni anak tangga rumahku dengan langkah gontai. Setelah aku berada dilantai bawah hawa yang tadinya biasa saja menjadi sedikit dingin dan menyeramkan, ditambah lagi kedaan rumah yang remang-remang, sepi dan sunyi. Dering telpon itu semakin menjadi-jadi yang mengharuskan siapa saja untuk menerima telpon dari seseorang misterius itu.
Bulu kudukku mulai berdiri, seolah-olah dengan keadaan rumah yang gelap aku menangkap bayangan hitam yang ternyata itu hanya perabot rumahku saja. Aku mulai mencari-cari sakelar. Setelah kuhidupkan lampu, aku berjalan menuju sumber suara telpon yang masih berteriak-teriak untuk diangkat. Setelah aku mendekat, suara dering itu berhenti. Mungkin karena aku lama mengangkatnya. Atau saja seseorang yang menelepon tengah malam itu menyerah menunggu seseorang membalas telponnya. Aku menunggu beberapa menit siapa tau saja seseorang itu menelepon lagi. Tapi kenyataannya tidak. Karena kesal aku menunggu siapa orang yang berani-beraninya mengganggu tidur malamku, ku putuskan untuk kembali kekamar. Tidak sampai beberapa langkah dering telpon rumahku berbunyi lagi. Aku mulai mengangkatnya.
“halooo…” kataku. Tapi tidak ada jawaban sedikitpun atau bunyi apapun. Hawa dingin, sunyi, sepi dan mencengkram kembali aku alami. Aku tidak bisa berfikir jernih karena tiba-tiba lampu dirumahku mati. Aku hanya diam sambil memegang gagang telpon. Kurasakan ada tangan yang memegang pundakku, dan sekarang tangan itu mulai menjalar ke leherku. Aku dicekiknya. Aku berusaha untuk melepasnya namun tidak bisa. Cekikannya semakin kuat dan aku mulai tidak bisa bernafas. Nafas ku mulai tidak teratur.
Dannnnn….. itu hanya mimpi. Aku mimpi buruk. Kulihat jam masih jam setengah satu.” Oh my God…” sebutku. Aku kembali tidur setelah aku terjaga. Tapi… mimpi itu seolah-olah nyata sampai aku tidak bisa tidur. Ku ambil selimut dan menutupi semua tubuhku. Tunggu dulu! Suara apa itu? Pikir ku. Suara itu… yah benar. Suara dering telpon rumah ku. Tapi, bagaimana bisa mimpi ku tadi menjadi kenyataan? Apakah aku akan dicekik setelah menerima telpon itu? Atau aku akan bertemu hantu? Tidak, tidak, aku tidak akan mengangkatnya. Suara itu semakin keras dan menyeramkan walau aku berada di lantai atas tapi tetap saja suaranya menyeramkan.
Aku tutupi tubuhku dengan selimut dan menutup kupingku agar aku tak mendengar. Ada suara lagi dirumahku sepertinya aku kenal. Yah aku mengenalnya. Itu dering ponselku. Ponselku berada di meja samping tempat tidurku. Aku mulai mengintip dari balik selimut dan melihat ponselku yang menari-nari dimeja. Aku mengambilnya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel ku. NO NUMBER yang tertera disana. Siapa yang menelponku selarut ini? Apa si penelpon misterius itu seseorang yang sama yang baru saja menelpon ke nomor telpon rumahku? Jantungku mulai tidak stabil. Aku pencet tombol answer yang tertera dilayar ponselku. Ku dengar seseorang disebrang sana menghembuskan nafas, aku hanya diam saja tanpa bersuara.
“happy birthday Clara !”apa? Siapa yang ulang tahun? Aku? Benarkah? Ia benar aku berulang tahun. Aku lupa kalau hari ini adalah ulang tahunku yang ke-22. Tapi siapa dia? Sipenelpon itu?
“selamat ulang tahun adikku yang manja, Clara! Kenapa kamu diam? Apa kamu lupa padaku? Kakakmu yang ganteng ini?” balasnya lagi karena dari tadi aku tidak bersuara. apa? Kak Ardian? Ia benar itu dia. Kak Ardian adalah kakak angkatku yang kini tinggal di Singapur. Tapi sudah lama ia tidak menghubungiku kurang lebih empat tahun. Mungkin karena ia sibuk. Sibuk kuliah, tentu saja. Karena kak Ardian mendapat beasiswa kuliah di Singapur.
“haloo? Kamu kenapa? Ada sesuatu yang terjadi disana? Dari tadi kamu diam saja?” Tanya kak Ardian sekian kalinya karena aku tidak menjawab ucapannya.
“kak Ardian?” jawabku kaget
“iya ini aku?”
“kak kenapa malam-malam nelpon? Bikin aku takut ajah, kakak juga yang nelpon ke telpon rumah?”
“hahaha kamu takut ya malem-malem di telpon orang? Untung kakak yang telpon kalau hantu gimana? Hahaha” balas kak Ardian yang mulai menakut-nakuti.
“ihhh… kakak, kalau aku jantungan gimana? Apalagi aku dikamar sendiri!” keluh ku kepadanya.
“adikku yang satu ini memang penakut!”
“kak, kapan pulang?”
“pulang? Hemm gimana ya? Kamu kangen sama aku ya?”
“kangen? Tentulah, berapa lama kau meninggalkan kami disini? Apa sedikitpun kau tidak rindu pada kami?”
“maafkan aku tidak bisa menghubungi kalian, bukan karena aku tak rindu, karena tugas kuliah ku disini sangat padat sampai-sampai mengangkat telpon saja tidak bisa” jelas ka Adrian. Suaranya yang lembut membuat aku semakin merindukannya.
“kapan pulang?”
“minggu depan aku akan ke Jakarta!”
“benarkah? Aku harap secepatnya kau pulang, betapa kami merindukanmu kak!”

Setelah percakapan ku dengan kak Ardian, aku akhirnya bisa tidur nyenyak.
*
Aku dan keluargaku sedang berada dibandara Soekarno-Hatta, kami sedang menunggu seseorang yang sudah lama tak kami temui. Dialah kak Ardian. Kakak yang sangat kurindukan. dialah cinta pertamaku. Awalnya aku tidak menyangka kenapa aku bisa jatuh cinta padanya. Aku dan kak Ardian tidak pernah menganggap kami itu adik-kakak, kami menjalani hubungan sebagai kekasih. Kami pacaran diam-diam, sampai akhirnya mama tau hubungan kami. Mama yang syok dengan hal itu, mengharuskan kami untuk mengakhiri hubungan kami. Walau aku dan kak Ardian itu tidak sedarah, mama tetap menentang hubungan kami. Begitu beratnya menanggung beban ini, berbagai cara yang kulakukan untuk melupakan perasaan itu, tapi selalu gagal. Sampai akhirnya mama mengirim kak Ardian ke Singapur dan ia juga mendapat beasiswa disana. Sudah 5 tahun ini kami tidak bertemu. Awalnya aku sangat berat dengan keputusan mama, tapi aku harus bisa melupakan perasaan ku kepada kak Ardian. Pertemuan ini adalah pertemuan pertamaku setelah kepergian kak Ardian 5 tahun lalu. Untuk perasaan ku saat ini… aku sungguh masih mencintainya. Demi mama kukorbankan cintaku. Aku tidak tau apa kak Ardian masih mencintaiku atau tidak. Aku harap tidak. Aku harap kak Ardian bisa menerimaku sebagai adiknya, bukan sebagai kekasihnya. Biarlah aku yang sendiri merasakannya.
Seorang pria yang tak asing bagiku melambai kearah kami. Dia kak Ardian. Senyumnya yang menghiasi wajahnya sama seperti dulu tak ada yang berubah hanya style rambutnya saja yang berubah. Aku senang bisa bertemu dengannya. Dia memeluk mama dan aku. Aku berusaha menahan perasaan ini. Dalam perjalanan kami kerumah, kami tak sedikitpun menyingung kejadian 5 tahun lalu. Berat untuk kami mengingat kejadian 5 tahun lalu. Membuat aku harus berpisah dengannya.
Aku rasa kak Ardian benar-benar sudah melupakan kejadian itu, dia seperti kakak yang kuinginkan. Kejadian itu kesalahan aku dan kak Ardian. Entah awalnya dari mana sampai-sampai kami memiliki perasaan yang sama. Mama sangat kecewa padaku, terutama kepada kak ardian. Dia tidak bisa menjagaku sabagai adiknya. Aku harap aku terus bisa bersandiwara. Aku harus bisa mencari pengganti kak Ardian yang pernah ada di hatiku. Andaikan aku bisa… mungkin aku tidak seperti ini. Ketahuilah aku masih mencintaimu, kak!

*The End*

He is Rain!



Dia melihat seperti itu lagi! Kata-kata yang selalu menari-nari dalam pikiran Vian tanpa di sadari. Dilangkahkan kaki jenjangnya keluar kelas menuju kelas sahabatnya, setelah mendengar bel tanda istirahat. Perasaan aneh datang mendadak setiap pria itu menatap kearah Vian. Pikiran heran dan bingung terhadap pria itu selalu muncul dalam otaknya. Vian tidak mengenal pria itu, ia hanya tau kalau pria itu bernama Rain dan ia kelas 12 IPA 2. Sekedar menyapa saja tidak pernah dilakukan selama di sekolah. Vian juga tidak memperdulikan dengan siapa dan apa yang ia lakukan. Tatapan mata yang tajam dan penuh arti itu, seolah-olah ingin berbicara. Kejadian itu selalu dialami Vian setiap mata pria itu bertemu dengan mata Vian. Badan terasa kaku, lidah kelu, mata yang seolah terhipnotis dengan keberadaan pria yang duduk di kursi panjang depan kelas Vian memaksa untuk terus menatapnya.  Dienyahkan pandangannya ketika ia menyadari berapa lama ia menatap pria tersebut. Ingin rasanya Vian menanyakan kepada pria tersebut apa maksud tatapannya itu. Apa seperti itu kah ia menatap ke semua orang? Atau hanya kepada Vian saja? Entahlah!
Tiba di kelas 12 IPA 1, Vian menemui sahabatnya yang biasa berkumpul disana. Vian belum menceritakan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini kepada sahabatnya. Apa ini hanya firasat yang salah atau Vianlah yang salah mengartikan tatapan itu? Hanya Tuhan yang tau apa yang terjadi sebenarnya. Vian duduk di samping Meri. Kelima sahabat itu berbincang-bincang disertai gelak tawa. Kejadian yang tadi di lupakannya sejenak. Pikirannya tak lagi memikirkan pria tersebut. Sampai bel tanda masuk berbunyi dan Vian keluar menuju kelasnya. Vian bersahabat dengan Meri, Risyi, Mia dan Florya sejak kelas satu SMA. Karena pada waktu itu mereka sekelas dan duduk agak berdekatan satu sama lain, membuat persahabatan mereka berlanjut sampai sekarang walau tidak lagi sekelas.
Setelah bel tanda masuk, dan guru memasuki kelas Vian, ia mengikuti pelajaran dengan baik. ketika waktu sholat Dzuhur pun, ia tidak mengalami kejadian yang sama seperti waktu istirahat. Setidaknya tidak terulang di hari yang sama. Ingin rasanya memaki pria itu dan menanyakan apa maksudnya ia melakukan hal itu. Membuat hari-hari Vian selalu memikirkan pria tak dikenalnya itu.
“Vi!” panggil seseorang dari belakang ketika Vian sedang  berjalan menuju gerbang sekolah. Membuat Vian dengan spontan menoleh kebelakang. Disadarinya, ia adalah Reno. Reno adalah teman sekelas Vian.
“ada apa Ren?”
“kenapa langsung pulang? Bukannya elo hari ini piket?” kata Reno memberitahu kalau hari ini Vian piket kelas. Dan biasa dilakukan pada jam pulang sekolah.
“emang ini hari apa? Tanya Vian polos. ia bukan menghidari tugas piketnya, melainkan ia lupa kalau hari ini giliran ia piket kelas.
“Rabu! Elo nggak piket? Nanti dimarahi Pak Nardi! Elo kayak nggak tau ajah wali kelas killer kita!” katanya mengingatkan. Pak Nardi adalah guru Fisika kelas 12 IPA. Ia salah satu guru ter-killer di sekolah SMA Pelita, Jakarta. Dan pak Nardi juga sangat memperhatikan kebersihan kelas yang ia pegang selama menjadi wali kelas.
“oh iya gue lupa, thanks udah ngingetin!” menyadari kalau ia piket hari ini, ia bergegas kembali ke kelas 12 IPA 3, yaitu kelasnya.
Ada beberapa siswa-siswi dikelas tersebut sedang membersihkan kelas. Ada yang nyapu, mengelap kaca, menghapus papan tulis dan merapikan meja dan kursi. Vian mengambil sapu yang berada di dalam lemari. Ditaruh tasnya di atas meja dan mulai menyapu. Setelah tugasnya selesai, ia akhirnya bisa pulang. Ketika melewati lapangan, dilihatnya ada beberapa ekschool yang sedang berlatih di lapangan. Disana ada anak silat, teater, dan Futsal. Karena lapangannya sangat luas dan cukup untuk ketiga ekschool tersebut. Trik matahari yang panas tak membuat anak-anak itu merasakan lelah yang berlebihan. Mata Vian tertuju pada anak-anak silat, dan pria yang selalu membuatnya berfikir. Ia adalah Rain. Oh ternyata dia anak silat. pikirnya. Rain seperti siswa pada umumnya tak ada yang berbeda. Tatapan matanya ke orang lain juga biasa saja. Tunggu dulu! apa? biasa saja? Berarti tatapan itu hanya untuk Vian? Oh Tuhan, ada apa ini? apa maksudnya? Tanda tanya besar!
Rain sempat melihat Vian. Ia juga melihat Vian keluar dari kelas menuju gerbang sekolah sampai Vian menghilang dari pandangannya, tapi setelah itu melanjutkan kegiatannya lagi.
Vian berdiri didepan gerbang sekolah, ia sedang menunggu bang Ajis. Bang Ajis adalah tukang ojek Vian dari SD sampai sekarang. Bukannya tak berani.  sebenarnya Vian ingin sekali pulang bersama sahabatnya. Tapi mama Vian tidak memperbolehkan anakanya pulang sendiri atau pun bareng teman yang lain. Karena mama Vian tidak mau kejadian waktu kelas 3 SD menimpa Vian lagi. Vian waktu itu sempat diculik oleh dua orang tak dikenalnya. Ketika ia sedang menunggu bang Ajis yang tak kunjung datang. Diputuskannya untuk pulang sendiri. Vian sangat hafal jalan pulang. Ketika ia sedang berjalan ia dihadang dua orang laki-laki, kedua orang itu ingin menculik Vian, tapi keburu bang Ajis datang dan menyelamatkan Vian dari dua orang tersebut. Bang Ajis memukul kedua orang itu, dan akhirnya mereka kabur. Vian pada saat itu hanya bisa menangis. Sesampai dirumah, bang Ajis menceritakan semua. Membuat mama Vian tak mengijinkan Vian untuk pulang sendiri.
Vian sudah beberapa kali meminta mama untuk mengijinkannya agar tidak dijemput bang Ajis lagi, tapi mama selalu menolaknya. Cuman karena alasan yang sama. Mama memang sayang sama Vian. Tapi kalau terus dibatasi seperti ini, membuat Vian tidak kuat menjalani kehidupan seperti ini. Vian berkata ke mama kalau umur Vian sudah 17 tahun, mama tidak akan membatasi kebebasan Vian lagi. Awalnya mama agak sedikit ragu akan permintaan tersebut. karena bujukan papa juga akhirnya mama menyanggupi permintaan Vian. Tapi masalahnya umur Vian belum 17 tahun. Dan masih dua bulan lagi.
Bang Ajis tak kunjung datang, membuat Vian lama menunggu. Sempat berfikir untuk pulang sendiri, tapi takut mama khawatir. Diputuskannya untuk menunggu saja. Wajah yang lelah dan keringat bercucuran di wajah Vian setelah melakukan aktivitas sekolah yang padat.
“mau bareng?” kata seseorang yang menawari Vian untuk pulang bareng naik motornya. Vian menoleh kearah sumber suara itu. dan ternyata dia adalah Rain. Akhirnya Rain mengajak bicara duluan kepada Vian.  Vian yang menyadari itu Rain sedikit syok, dan mengalihkan pandangannya agar matanya tak bertemu dengan mata Rain.
“terimakasih, tapi gue lagi tunggu ojek gue!” tolaknya secara halus.
“mau sampai kapan elo nunggu, Vian!” Apa? dia tau nama gue! Tapi kok bisa? Gue kira nggak banyak yang kenal gue. Ternyata gue lumayan terkenal juga, hehehe. pikirnya.
“nggak tau nih!” jawab Vian sekenanya.
Selang beberapa menit ponsel Vian berdering. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan melihat nama yang tertera di layar. Bang Ajis. Gumamnya.
“non Vian, maaf bang Ajis nggak bisa jemput. Soalnya motornya mogok. Sekarang lagi di bengkel. Non Vian bisa bareng temen non ajah.” Kata bang Ajis di dalam telpon. Terdengar suara bising menandakan sekarang bang Ajis memang berada di bengkel.
“yasudah bang Ajis!” nadanya sedikit kecewa.
Seakan mengerti pikiran Vian, Rain menawari untuk pulang bareng dengannya lagi. Akhirnya Vian menerima tawaran Rain. Selama perjalanan tak ada sepatah kata pun yang terlontar dimulut keduanya. Rain tak lagi menatap Vian seperti yang Vian alami.
“thanks udah ngaterin gue!” kata Vian setelah ia sampai di depan rumahnya.
“iya sama-sama” balas Rain simple.
“hati-hati!
                Ketika Vian berbalik badan dan tiba-tiba Rain menarik tangan Vian. Ia merasakan tangan Rain menyentuh tangannya, jangtungnya berdebar-debar seolah-olah ingin melompat keluar dari tubuhnya, badan kaku, lidah terasa kelu, tatapan Rain yang pernah ia rasakan terjadi lagi. Tatapan yang tak biasa terbaca oleh Vian. Rain masih memegang tangan Vian dan terus menatapnya. Seandainya Tuhan mengijinkan untuk pingsan saat ini, Vian rela. Keheningan terjadi cukup lama. Tatapan mata Rain membuat Vian tak berdaya, bahkan saat ini pikiran Vian tak terkendali.
“Vian…”  kata Rain lembut, akhirnya ia membuka suara setelah keheningan yang cukup lama. Vian yang mendengar namanya tersebut tak bisa berbuat apa-apa. Ia pasrah.
“maaf, gue ninggalin elo!”
Ada apa dengan Rain? Kenapa dia minta maaf? Apa Rain melakukan kesalahan terhadap Vian? Vian yang mendengar perkataan Rain rasanya tak mampu merespon.
“gue tau, gue salah. Seharusnya dulu gue sadar. Gue itu tolol!”
Vian menyadari suatu hal. Pikirannya berputar-putar ke masa lalu. Ia akhirnya mampu mengingat MEMORI YANG PERNAH HILANG. Rain adalah teman SD Vian yang pernah di sukainya. Bertahun-tahun ia melupakan Rain dan tak pernah bertemu sampai sekarang. Vian tak menyadari kalau orang yang pernah disukainya satu sekolah. Tapi, kenapa Vian baru menyadari kalau itu dia? Vian bego!
“Rain?” sebut Vian. Hatinya luruh. Air mata Vian mulai membasahi pipi tirusnya. Rain adalah seseorang yang pernah berarti di hidup Vian. Ia kecewa ketika Rain lebih menyukai Maya, sahabat Vian. Maya dan Vian bersahabat dari kecil dan beberapa tahun ini, mereka jarang kontek-kontekan  karena kesibuakan masing-masing.
                “ia ini gue Rain… gue minta maaf dulu gue ngedeketin elo cuman untuk manfaatin elo. Karena elo gue bisa tau semua tentang Maya. Gue emang dulu suka sama Maya. Setelah gue ngejalani, ada sesuatu yang hilang…. yaitu kamu, Vian! Kedekatan kita dulu itu, ada sesuatu yang tak pernah kita sadari. Setelah elo pergi dari hidup gue. Dan gue tau sekarang, elo yang gue butuhin. Gue nggak pernah sadar kalau kedekatan kita itu, berarti di hidup gue. Gue nggak tau apa elo ngerasaain hal yang sama. Gue pengen elo tau… AKU CINTA KAMU!”
                Air mata Vian terus keluar dari mata bulatnya, ia merasakan hal yang sama. Seseorang yang sempat ia lupakan dari pikirannya. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia merindukan seseorang yang pernah mengisi hatinya, merubah hidupnya dan telah  memberi arti cinta. Vian memeluk Rain dengan hangat. Ia menangis dalam pelukan Rain.


*the end*