Prolog
Ketika
rembulan memancarkan cahayanya dalam kegelapan
Menerangi
bumi, bintang bertaburan di langit, angin malam menusuk sukma
Menatap
malam yang gelap, seberkas cahaya rembulan terpancar disudut kegelapan
Ketika
kaki melangkah tanpa tujuan, Berjalan tak tau arah
Ketika
perasaan, pikiran, perbuatan tak lagi sama
Mampu
mematahkan semangat!
Sendiri,
sendiri, bertanya kepada diri sendiri, apa yang harus dilakukan!
Bertanya
kepada rembulan yang tak mampu menjawab
Kesunyian,
kehampaan, keputusasaan, tak mampu dikendalikan
Mencari
jati diri dalam kemandirian
Bertanya
kepada semua orang, tapi tak satu pun tahu maksud yang diinginkan
Terus
mencari, cari, sampai perasaan, pikiran tak sanggup untuk bertahan
Tapi
ingat! Tuhan tidak memberikan sesuatu yang kita inginkan, melainkan sesuatu
yang kita butuhkan!
Orang bilang SMA adalah masa-masa indah anak remaja. Memang
benar. Di sana Mereka akan menemukan hal-hal seru. Menemukan jati diri, cinta,
sahabat, bergaul, bebas berekpresi, bekarya, dll. SMA juga adalah masa
pengujian. Pengujian tentang arti hidup, sahabat dan cinta. Ketika satu persatu
pengujian itu datang bertubi-tubi dalam hidup kita, apakah kita mampu
menghadapinya?
Senja itu, ketika matahari malu-malu bersembunyi
di ufuk barat, memancarakan cahaya yang mulai redup, seharian yang telah memberi penerangan. Esok adalah
hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, kebanyakan orang-orang memanfaatkan
waktu libur untuk refresing dan pergi
ketempat-tempat funtasy atau ketempat
yang ingin dikunjungi setelah melakukan aktivitas-aktivitas yang padat. Apalagi
Jakarta adalah salah satu kota terpadat, termacet dan berpolusi. Tidak seperti
gadis yang sedang asik mendengarkan lagu di kamarnya sambil bernyanyi-nyanyi
mengikuti setiap lagu yang diputarnya. Gadis itu lebih banyak menghabiskan
waktu liburnya dengan membantu orang tuanya. Membersihkan rumah atau pun
sesekali membantu mengantarkan barang jualan ke toko pakaian milik orangtuanya
di salah satu Mall yang ada di Jakarta.
Dinding
kamar dipenuhi poster-poster rider MotoGp terutama Marc Marquez, ia adalah rider
terkenal asal Spanyol yang tahun depan akan naik kelas 1000cc. wajahnya yang
tampan, bibir tipis sexy dan alis
tebal membuat Resa tergila-gila padanya. Ia salah satu rider termuda, dan tahun
kelahirannya berbeda satu tahun lebih tua dari Resa. ia tak pernah melewatkan
menonton MotoGp yang tayang di salah satu TV nasional.
Lagu
yang diputarnya menggema memenuhi seluruh sudut kamarnya yang bersih dan rapih.
Alunan musik K-Pop asal Korea itu membuat Resa tak henti-hentinya bernyanyi dan
menghayati setiap lirik lagu walau dengan suara pas-pasan. Ia tidak
memperdulikan siapapun yang mendengar suaranya. Karena asik bernyanyi
sampai-sampai ia tak mendengar suara apapun. Bahakan suara cicak dikamarnya pun
tak dapat didengarnya.
Suara
itu semakin keras! Resa menyadari ada seseorang di balik pintu memanggil
namanya. untuk cepat-cepat dibukakan. Menyadari itu Resa segera mematikan lagu
yang diputarnya. Dengan wajah sedikit kesal karena telah mengganggu
aktivitasnya, ia akhirnya membuka suara.
“siapa sih?” dengan nada sedikit emosi
dan keras.
“woiii, berisikkk!! Suara lo pales
banget!” terdengar suara keras dibalik pintu kamar Resa memaki-maki.
“apaan sih lo kak? Ganggu gue ajah!
Bodo amat mau pales atau nggak yang penting gue hepi! Masalah gitu buat lo?”
balas Resa dengan kesal setelah mengetahui siapa yang menggangunya, yaitu kak
Agra.
“yaialah masalah buat gue, masih
mending suara elo bagus, ini suara udah kaya kaleng rombeng!” teriak Kak Agra lagi
dari balik pintu.
“bodoooo! Maaa itu kak Agra ganggu aku
mulu!!” teriak Resa menuju pintu kamarnya dan membuka pintu terlihat kak Agra
yang berdiri dihadapannya.
“Agra kamu seneng banget sih ganggu
adik kamu!” suara lembut mama terdengar dari ruang tamu.
“ tau nih Ma, Resa ajah nggak pernah
ganggu kak Agra!” sambil menjulurkan lidah kearah Kak Agra menandakan bahwa
Resa mengejek Kak Agra dan merasa mama membelanya. Kak Agra yang tidak bisa
terima, membalasnya dengan mengacak-acak rambut Resa.
“gue sih udah biasa denger suara elo
yang kaya gitu, masalanya ada temen gue, kalau mereka denger suara pales adik
gue tersayang ini, apa kata dunia?” lontarnya.
“bodoo ah, biar mereka tau betapa
indahnya suara gue!” dengan kesal Resa menutup pintu kamarnya rapat-rapat agar
Kakaknya yang ngeselin itu nggak bisa
masuk dan menganggunya lagi.
“aduhh
kenapa kak Agra nggak bilang dari tadi ke gue kalo temennya kesini! Sumpah malu
banget kalo sampe mereka denger suara gue! Apalagi kalo didenger kak Rere yang
ganteng, suara gue kaya gini, mau di taro dimana muka gue kalo ketemu dia?!” keluh Resa yang langsung berbaring dikasur empuknya.
*
Hari
ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Saatnya
kita akan menemukan teman-teman baru, teman yang akan memberi kita
pengalaman-pengalaman seru dan akan menjadi bagian cerita indah dalam hidup
kita yang perlu diingat dalam memory kita. Kita tidak pernah tau apa yang bakalan
terjadi dihidup kita, sebelum kita merasakan yang namanya persahabatan, tantangan,
cinta, sakit hati, sedih, kecewa, bahagia dan lain-lain. Itu semua adalah
sebagian besar dari proses kehidupan. Masa-masa yang nggak bakalan terlupakan
adalah masa-masa SMA terutama kelas dua. Ini yang akan dirasakan Resa selama ia
duduk di bangku kelas dua IPS.
Kelas
11 IPS 1 itu berada di pojok atas lantai dua. Resarma Sista itulah salah satu
nama yang terpampang di selembaran kertas yang menempel dibalik jendela kelas
tersebut. Resa memasuki kelas barunya dan melihat teman barunya yang asik
dengan kesibukan mereka masing-masing ada yang sedang mengobrol dengan temanya,
ada yang sedang mendengarkan musik, ada yang memperhatikan Resa yang masuk
kelas setelah itu melanjutkan kegiatannya dan ada juga yang sedang bercanda
dengan temannya. Resa berjalan cuek menuju tempat duduk yang kosong persisnya
di pojok barisan keempat dekat pintu. Berhubung sahabat-sahabat Resa tidak ada
yang satu kelas dengannya, maka terpaksa ia duduk sendiri.
Datang
pria jangkung, berkumis tipis, kemeja coklat dengan rambut klimis yang di belah
tengah dan rapih memasuki kelas. ia memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas
11 IPS 1, namanya pak Dahlan Suntoro. ia asik bercuap-cuap di depan kelas. Selang
beberapa menit masuk seorang siswa yang sedikit asing di kalangan angakatan
Resa. Terdengar bisik-bisik dari siswi di kelas itu, entah apa yang di obrolkan
oleh mereka ketika siswa itu memasuki ruang kelas. Suara pak Dahlan yang keras
dan melengking, memberitahu siapa siswa tersebut, ternyata dia adalah murid
baru di kelas 11 IPS 1, namanya Darma Sandwika. Dan yang lebih mengejutkan lagi
ternyata Darma TIDAK NAIK KELAS. Resa yang mendengar pernyataan tersebut kaget siswa
tersebut tidak naik kelas. Anak baru yang tidak naik kelas itu memperkenalkan
dirinya didepan kelas. Tiba-tiba jantung Resa berdebar kencang dan ia mulai
merasa resah entah apa yang akan terjadi, Resa menerka-nerka hal itu dalam
pikirannya namun berusaha ia singkirkan. Ia semakin resah dan apa yang terjadi?
Siswa YANG TIDAK NAIK KELAS ITU duduk sebangku dengan Resa. Karena bangku
disampingnya kosong, maka mau tak mau ia menerima dan pasrah menerima kenyataan
itu.
“kiamat!”
suara Resa terdengar keras membuat seluruh orang yang ada diruang kelas itu
sontak kaget dan melihat kearah Resa.
“hei
kamu, siapa namamu?” Tanya pak Dahlan sambil menujuk jarinya kearah Resa.
Mungkin karena tergangu dengan suara Resa yang membuat kaget orang-orang yang
berada diruang kelas itu.
Resa
yang malu dengan perbuatannya membuka suara. “nama saya Resarma Sista” jawab
Resa dengan hati-hati.
“jangan
kamu ulangi lagi!” tegas pak Dahlan.
“baik
pak!” kata Resa sambil mengangguk bahwa ia mengerti dengan perintah pak Dahlan.
Hari pertama masuk sekolah saja sudah membuat malu, apalagi setahun kedepan? Aduh
apa yang terjadi kedepannya dengan Resa? bagaiamana bisa ia duduk dengan
seseorang yang tidak naik kelas? Pasti hari-hari Resa direpotkan oleh anak baru
itu. Apa yang bakalan terjadi antara Resa dengan anak baru tersebut?
Cowok
itu berjalan kearah Resa dan duduk disampingnya. Cowok itu tersenyum tipis kearah
Resa dan begitu juga denga Resa yang membalas senyumannya. Cowok yang kini
berada disamping Resa membuka suara “nama gue Darma Sandwika, elo bisa panggil
gue Darma ajah. Salam kenal ya” kata cowok itu memperkenalkan dirinya kepada
Resa. “nama gue Resarma Sista” elo bisa panggil gue Resa. Salam kenal juga”
balas Resa yang memperkenalkan dirinya.
Setelah
perkenalan itu mereka berdua tidak lagi saling berbicara ataupun sekedar
menanyakan sesuatu karena Darma teman sebangku Resa hanya diam dan cuek. Begitu
juga dengan Resa yang dari tadi diam. Mereka menjalani hari ini dengan
kebisuan. Apa karena mereka masih canggung atau bingung menanayakan sesuatu?
Tidak mungkin jugakan Resa menanyakan kenapa dia tidak naik kelas? Kalau Resa
bisa menanyakan itu pasti Darma akan merasa kecewa dan membenci Resa. Oleh
sebab itu Resa memilih diam saja dari pada menanyakan hal itu ke Darma.
*
“Resa
pulang!” teriak Resa memasuki rumahnya. Pada jam segini pasti mama lagi berada
di dapur dan nyiapin makan siang buat Resa dan kak Agra. “kamu udah makan?”
Tanya mama menghampiri Resa yang duduk di ruang tamu.
“Resa
udah makan Ma tadi di sekolah!”
“oh
ya nanti kak Arga bawa temennya kesini palingan Rere sama Lian, mereka mau
ngerjain tugas bareng katanya sih!” sambung Mama
“kak
Rere Ma?” Tanya Resa antusias.
“yah
siapa lagi kalau bukan mereka berdua, yaudah Mama mau nyiapin makan dulu!” Mama
meninggalkan Resa. Kak Rere mau kesini
aduh gue harus keliatan cantik nih pikir Resa dalam hati. Resa buru-buru
ganti baju yang bagus dan rapih agar tidak mengecewakan Kak Rere. Hikhik
“selamat
siang kak Rere, Kak Lian!” suara Resa mengejutkan mereka yang duduk di ruang
tamu.
“selamat
siang juga dik Resa” sambut Rere dan Lian berbarengan.
Agra
yang melihat tingkah laku adiknya langsung menghampiri Resa dan melihat dengan
intens.
“kayanya
ada yang beda nih sama adik gue? Tapi apa yah?” selidik Agra sambil
memincingkan sebelah matanya.
“iya
nih ada yang beda!” sambar Lian yang tak mau kalah.
“apaan
sih kalian berdua, aku tuh biasa ajah!” jawab Resa sekenanya.
“eh
tunggu dulu, kok bibir adik gue merah yah? Elo pake lipstik ya?” Agra yang
memperhatikan ada yang beda dengan bibir Resa dan membuat Resa memerah karena
malu. Karena sebelumnya Resa tak pernah memakai lipstik. Dan lipstik yang ia
pakai sekarang adalah lipstiknya yang ia beli seminggu lalu, belum pernah ia
memakainya, baru sekarang ini saja.
“hehehe
ia, sedikit doang!” jawab Resa cengengesan.
“tumben-tumbenan,
jangan bilang elo ngelakuin ini buat Rere? Yakan? Ngaku lo?” Tuduh
kak Agra.
“enak
ajah gue ngelakuin ini buat diri gue sendiri!” dusta Resa yang tak mau ketahuan
bahwa yang ia lakukan itu hanya semata-mata buat kak Rere. Rere yang melihat
gelagat adik temannya itu hanya tersenyum tipis kearah Resa.
“nggak
biasanya elo kaya gini? udah mulai genit ya?” ledek kak Agra. Resa yang mati
kutu hanya bisa cengengesan.
“apa
urusanya sama lo? Lagian kan gue cewek, malulah kalau kaga bisa dandan!” ngeles
Resa
“wah
ternyata adik gue ini udah gede ya!” ledek kak Agra lagi.
“ah
terserah dah!” Resa mulai kesal dengan kelakuan kak Agra. Resa yang selalu
dibikin kesal oleh kak Agra memilih untuk mengalah dan pergi dari pada
ngeladenin kak Agra yang sok tau dan ngeselin itu. Apalagi kalau kak Rere tau
kenyataan yang sebenarnya, pasti ia bakal malu banget. Ditambah kak Lian yang
ikut-ikutan ngeledek dan tertawa lebih keras dari kak Agra bikin malu ajah.
“Kak Agra apa-apaan sih bikin gue mati kutu didepan kak Rere
apalagi dengan bibir merah gue aduh pasti gue diketawain oleh mereka kalo gue
ngelakuin itu semata-mata buat kak Rere. Pasti mereka lagi ketawa nih!” gerutu Resa yang duduk di kasurnya dan memajukan bibir
tipisnya itu.
Hari
ini banyak orang yang bikin Resa kesal pertama kak Agra, kedua kak Agra, ketiga
Darma. Bagaimana tidak dua kali dengan kak Agra karena yang paling super duper
nyebelin itu kak Agra, heran kenapa dia bisa jadi kakaknya Resa. Darma?
Sebenernya sih dia belum ngelakuin sesuatu yang bikin Resa marah tapi karena
dia tidak naik kelas pasti membuat Resa akan kerepotan ngadepin cowok bodoh
itu. Sial!
*
Resa
menjalani hari-harinya seperti biasa yaitu mengikuti pelajaran ekonomi dengan
baik. Pelajaran yang membosankan itu membuat Resa sesekali menguap. menjadi teman sebangku yang baik, Darma juga
tidak banyak bicara hanya berbicara sedikit-sedikit saja. Bel istirahat pun
berbunyi, membuat Resa terbebas dari pelajaran yang susah itu. Resa memang
tidak terlalu pintar di pelajaran ekonomi. Dengan langkah gontai Resa pergi
kekantin.
“Res, kemana ajah elo?” teriak salah satu anak
yang bergerombol duduk di sudut kantin sekolah. Resa duduk bergabung dengan
temannya.
“gue
nggak kemana-mana!” jawab Resa sekenanya. Yang duduk disamping Syisi.
“wes,
tampang elo bete banget nih! Lagi kenapa sih say? Oh ya elo duduk sama Darma
ya?” Tanya Syisi sambil menyeruput jus alpukatnya.
“siapa
tuh Darma?” sambar Rifka.
“elo
nggak tau Darma? Serius? Ah payah lo! Dia kan kakak kelas kita yang nggak naik
kelas!” jelas Syisi
“apa?
Nggak naik kelas?” Rifka yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“kok
bisa sih elo duduk sama dia?” Tanya Mela
Resa
yang duduk dan mendengar percakapan ketiga sahabatnya hanya bisa diam. Matanya
yang bulat dan besar itu menatap kearah cowok yang sedang duduk sambil makan
nasi goreng dengan lahapnya. Yah siapa lagi kalau bukan Darma. Darma itu
misterius seperti yang terlintas dipikiran Resa saat ini. Darma yang sadar dari
tadi diperhatikan oleh Resa menyudahi makananya dan pergi begitu saja. Resa
tidak sadar bahwa ketiga sahabatnya melihat kearahnya yang dari tadi melamun.
“Res,
gue Tanya juga dari tadi elo diem ajah! “ senggol Mela. Resa yang sadar dari
lamunannya stay cool kearah
sahabatnya.
“elo
liatin siapa sih?” Tanya Syisi penasaran
“gue,
gue…hemm” Resa sedikit berdeham agar sahabatnya tidak tahu bahwa ia dari tadi
melihat Darma yang sedang makan sampai ia pergi meninggalkan kantin. “gue nggak
ngelamun, cuman lagi bete ajah tadi sama pelajaran Ekonomi!”
“jawab
pertanyaan gue yang tadi!” bentak Mela yang masih penasaran tentang Darma itu.
“yang
mana?” Tanya Resa polos. Karena ia dari tadi tidak mendengar obrolan sahabatnya
itu.
“kenapa
elo bisa duduk sama Darma?” ulang Mela
“Darma?” kata Resa kaget. Kenapa bisa
mereka membicarakan Darma yang dari dipikirkan Resa?
“iya
dia!” sambar Rifka
“hemm
waktu awal gue masuk kelas, bangku samping gue kosong dan nggak ada yang mau
sebangku sama gue, terus karena ada anak baru ya udah deh gue duduk sama dia,
lagian kan gue duduk sama dia bukan kemauan gue, tapi karena pak Dahlan” jawab
Resa panjang lebar.
“siapa
yang elo bilang anak baru? Darma? Dia tuh nggak naik kelas!” tegas Syisi
“ah
udah jangan ngomongin dia lagi!” kata Resa yang mulai bete
“iyaiaya
gitu ajah sewot!” ledek Mela.
Kempat
sahabat itu asik membicarakan hal-hal seru dan pengalaman-pengalaman seru mereka
selama mereka libur panjang disertai gelak tawa dari mereka begitu juga dengan
Resa. Setelah bel istirahat habis, Resa dan teman-temannya masuk kekelas
masing-masing. Resa mengikuti pelajaran dengan baik walau sesekali menguap pada
pelajaran yang sedikit membosankan menurut Resa.
*
“Res
elo mau balik sama kita?” Tanya Rifka dan sahabat-sahabat lainnya yang berada
di depan perpustakaan
“elo
duluan ajah, gue masih ada tugas hari ini!” jawab Resa
“eh
yaudah gue duluan yah!” jawab Rifka
“duluan
yah!” kemudian disertai suara Mela dan Syisi yang berbarengan.
“oke!
Hati-hati!”
Resa
yang hari itu mendapat tugas piket kelas, harus membersihkan kelas. Resa
mengambil sapu yang berada di lemari dan mulai menyapu. Tak lama setelah itu,
Darma masuk kekelas untuk mengambil tasnya. Resa yang kaget kedatangan Darma
sontak melompat sedikit dan melihat kearah Darma.
“elo
bikin gue kaget! Kalo masuk kelas pake salam napa?” suara Resa menggema di
kelas itu
“eh
sori, gue kira nggak ada orang tadi!”
“jelas-jelas
ada gue disini! Nggak liat dari mana?” gerutu Resa pelan.
Resa
yang melihat penampilan Darma yang sedang mengenakan pakaian Silat langsung
terpana dengan badan Darma yang atletis dan ototnya yang kekar itu menonjol.
“elo
ekschool silat?” Tanya Resa yang masih memegang sapu.
“iya,
kenapa? Ada yang aneh?” Tanya Darma simple
“biasa
ajah sih, tapi kok gue baru liat elo ya?”
“gue
udah lama ikut Ekschool silat dari kelas satu” jelas Darma yang berdiri di
ambang pintu sambil merangkul tas dipundaknya.
“pantesan
sabuk elo udah merah!”
”dikit lagi juga mau item! Yaudah iya gue mau latihan dulu,
lanjutin gih nyapunya, yang bersih yah!” ledek Darma yang keluar kelas
meninggalkan Resa.
apa? Yang bersih? Dia kira gue pembantu? Baru tau gue
ternyata dia sama ngeselinnya kaya kak Agra! gerutu
Resa.
Resa
hari itu menyapu dengan tampang bete walau seperti itu, ia tetap menyelesaikan
tugasnya itu dengan baik. Ia keluar kelas dan berjalan disepanjang koridor
sekolah menuju gerbang sekolah. Tak lama ia mendengar suara anak-anak silat
sambil berteriak-teriak yang sedang berlatih menghancurkan batu bata termasuk
dengan Darma. Resa spontan duduk di bangku panjang yang berada di depan kelas
dan memperhatikan anak-anak silat berlatih. Terpikir di pikiran Resa bahwa
Darma itu kalau dilihat-lihat lumayan secara badannya seperti atlit-atlit
nasional yang sudah-sudah. Tanpa disadari ternyata Darma menghampiri Resa, Resa
yang melihat itu sedikit kaget tetapi tetap tenang.
“elo
belom pulang? Udah bersih kelasnya?” Tanya Darma sedikit meledek Resa.
“sialan
elo! Emang gue apaan?” jawab Resa sewot.
“hahahahaha
sori sori, gue cuman bercanda tadi! Gue perhatiin elo dari tadi ngeliatin gue?”
Tanya Darma yang membuat Resa malu.
“siapa
juga yang ngeliatin elo, gue ngeliatin anak-anak silat!” jawab Resa tenang
“termasuk
gue?” Tanya Darma yang mengangkat alisnya yang tebal itu.
“apa
maksud elo?”
“gue
kan anak silat, berarti elo ngeliatin gue juga dong!”
“emang
elo doang yang anak silat?” ngeles Resa
“bener
sih, tapi tadi pas dikantin elo juga ngeliatin gue?”
Apa?
Berarti dari tadi Darma sadar kalau hari ini Resa memperhatikannya? Apa yang
akan dijawab Resa? Haruskah berbohong lagi?
“o..oo
yang itu, gue, gue..!” Resa menarik napas dan melanjutkan perkataannya “gue
tadi lagi ngelamun, tapi sumpah deh gue nggak ngeliatin elo! Jangan Ge-Er dulu
lo!”
“hahaha jangan salting gitu juga kali! Iya gue tau elo lagi
ngelamun dan lagi ngelamunin gue! Haaa” tawa Darma geli
“apaan
sih lo! Dasar cowok ke ge-eran, padahal yang cakep banyak, ngapain juga gue
ngeliatin lo!”
“hahaha
siapa tau ajah kan? Gini-gini gue banyak yang nyukain lo!” katanya yang memuji
diri sendiri.
“cakep
dari mana? Itu cewek yang suka sama lo itu pasti katarakan! Yakan?” canda Resa
yang membuat Darma tertawa. Mereka terus berbincang bahkan saling mengejek satu
sama lain yang membuat keduanya asik tertawa. Mereka merasakaan kenyamanan saat
mereka berbicara. Sore itu Resa diantar pulang oleh Darma naik motor. Karena rumah
mereka searah dan Darma sendiri yang mengajak duluan, membuat Resa menerima
tawarannya itu. Mereka seperti sudah kenal lama. Apa itu dinamakan teman lama
yang sudah tak lama bertemu? Resa tak lagi memikirkan hal-hal negatif tentang
Darma apalagi ia salah satu siswa Feter.
Hal-hal negatif itu sudah terbayar dengan gelak tawa mereka sepanjang jalan. Mereka
menghabiskan waktu bersama dengan membicarakan lelucuon. Ternyata Darma anaknya
asik walau terkadang ngeselin juga sih, tapi nggak apa-apa deh yang penting
Resa nyaman berteman dengan Darma.
“thanks
udah nganterin gue pulang! Nggak nyangka ternyata elo anaknya asik juga!” kata
Resa sambil turun dari motor Darma.
“hahhaha
iya, elo juga seru! Asik!” kata Darma memuji.
“hati-hati!”
kata Resa melihat Darma memutar balik motornya dan pergi. Darma pun melambai
tangannya sebagai tanda perpisahan pada sore itu. Resa yang melihat, tersenyum
tipis dan membuka pintu pagarnya. Didepan pintu terlihat kak Agra yang sedang
melihat kearah Resa, alisnya terangkat menandakan penasaran dengan apa yang ia
lihat, karena baru kali ini ia melihat adiknya diantar pulang oleh seorang
cowok. Resa yang menegetahui maksud kak Agra pun cuek dan santai memasuki
rumah.
“siapa
tadi?” Tanya kak Agra penasaran.
“kepo
banget sih! Dia itu temen gue!” jawab Resa ketus. Kak Agra emang harus digituin , karena kalau tidak pasti ia
bakal terus-terusan ngelakuin apa yang ia mau. Menindas yang lemah. Ibarat
gajah dan semut. Gajah itu kak Agra dan semut itu Resa. Semut akan selalu kalah
dengan gajah yang badannya besar.
“temen
apa temen? Pacar kali? Kok nggak bilang? Rere dikemanain?” ledek kak Agra yang
bikin Resa memajukan bibirnya yang mungil dan memasang tampang bete dan kesel.
“dia
bukan pacar gue! Dia temen gue!” teriak Resa dan meninggalkan kak Agra sendiri
didepan pintu.
*
Gadis
yang berdiri di depan gerbang sekolah yang sedang menunggu jemputan, wajah yang
lelah akan aktivitas sekolah yang padat dengan tugas-tugas yang diberikan
guru-guru untuk murid-muridnya baik di hari biasa maupun waktu liburan.
Keringat yang membasahi dahinya yang sedikit lebar itu sesekali mengelap
keringat yang bercucuran dengan tisu yang dibawanya. Keadaan sekolah mulai
sepi, karena sebagian murid sudah pulang dan beberapa murid saja yang masih
berkeliaran disekitar sekolah. Exschool menjadi alasan beberapa murid yang
masih berkeliaran di sekolah. Ada juga yang sekedar untuk nongkrong-nongkrong
bersama murid lain. Gadis ini terus-terusan melihat jam tangan yang dipakainya
dan tampak resah. Sambil menggigit bibir mungilnya dan bergumam tidak jelas. Sesaat
itu terdengar ringtone handphone lagu
Shinee-Hello yang berteriak-teriak dari dalam saku bajunya. Setelah
menyadarinya, ia segera mengangkat dan berbicara dengan seseorang yang berada
disebrang sana. Setelah beberapa menit ia menyudahi telphone-nya terdengar
nada kecewa pada gadis itu. Gue pulang
sama siapa? Kalau gue tunggu mang Arif pasti lama? Gumam Resa. Resa memutuskan untuk menunggu mang Arif
saja, karena ia tidak biasa naik kendaraan umum setelah kejadian itu. Kejadian
dimana Resa
pernah di copet ketika mang Arif tidak bisa menjemput karena istrinya sakit dan
terpaksa Resa pulang naik metromini
dan dompetnya ludes diambil oleh copet tersebut. Resa tidak bisa berbuat
apa-apa karena copet itu sudah kabur. Orang-orang yang di dalam metromini
tersebut hanya melihat Resa prihatin. Metromini
yang melaju cepat membuat orang-orang disekitar tidak bisa berbuat banyak.
Setelah kejadian itu Resa tidak mau lagi naik metromini dan lebih baik menunggu berjam-jam seperti yang ia
lakukan sekarang. Mang Arif sedang berada dibengkel karena ada kesalahan teknis
dengan mobil yang dibawanya dan membuat Resa harus menunggu. Resa kembali masuk
kedalam sekolah dan menuju kekelasnya yang berada dilantai bawah disamping lab.
Biologi. Sesaat mata Resa tertuju pada seorang cowok yang sedang bermain bola
basket dilapangan, bukan karena Resa jatuh cinta pada pandangan pertama yang
dirasakan oleh kebanyakan orang pada umumnya, melainkan siswa itu adalah teman
sebangku Resa yang tidak naik kelas dan super nyebelin. Membuat Resa ingin
pindah tempat duduk tapi, tidak ada yang mau berganti tempat duduk dengannya.
Terpaksa Resa
harus bersabar untuk beberapa bulan ini. cowok itu menyadari bahwa dari tadi
gadis yang menjadi teman sebangkunya memperhatikannya. Pria itu melihat kearah
gadis itu dan menghampiri sambil mentribble
bola.
“hi
anak mami kok belom pulang sih? Lagi tunggu jemputan ya.” Pria yang sok cool ini meledek Resa dimana pun dan
kapan pun. Membuat Resa memasang tampang cemberut dan bete setiap kali bertemu
denganya.
“siapa
yang elo bilang anak mami? Ha.”
“anak
mami marah nihyee!.” Pria itu masih saja meledek Resa sambil memainkan bola
basketnya itu.
“gue?
Anak mami? Rese elo!” Resa yang tidak bisa terima dibilang anak mami itu
memasang tampang bete kearah pria yang ada dihadapannya itu.
“emang
bener kan. Buktinya belom dijemput ajah malah nggak pulang dan lebih baik
nunggu berjam-jam dari pada pulang sendiri. apa buktinya lagi kalau bukan anak
mami hayoo?”
“gg..gue
disini bukan nunggu jemputan. Tapi ada tugas lain yang perlu gue kerjain.
Jangan sotoy lo!” dusta Resa. Resa tidak mau kalah dengan pria itu dan terpaksa
berbohong demi harga diri terhadap pria yang nyebelin dan ngebetein.
“tugas
apa tugas? Terus elo ngapain ngeliat gue kaya tadi? Terpesona yaa sama
permainan basket gue.” kali ini Darma memuji dirinya sendiri. Kenyataannya
permainan basket Darma memang bagus dan siapapun yang melihatnya akan jatuh
cinta padanya. Tapi, Resa tidak sama dengan cewek-cewek lain kebanyakan yang
ada disekolahnya yang berteriak-teriak ketika Darma sedang bermain basket.
“bener
ada tugas kok” dusta Resa lagi. “idih ngapain juga gue harus terpesona sama elo
dari pada ngeliat elo mending gue...” tidak sempat melanjutkan perkataannya,
tiba tiba bola futsal terbang mengarahnya. Mengenai hidungnya dan mengeluarkan
darah. Resa yang merasa kesakitan langsung berlari menuju toilet. Meninggalkan
Darma yang kasihan dengannya. Resa terus berlari, ia tidak memperdulikan dua
pria yang memanggilnya. Resa mengelap darah yang keluar dari hidungnya dengan
tisu. Sakitnya yang luar biasa di gebok bola futsal membuat Resa terus meringis
kesakitan.
“Hidung
elo berdarah!” suara yang terdengar bersalah itu mengagetkan Resa dan membuat
Resa menoleh kearah sumber suara itu. Resa masih saja sibuk membersihkan darah
yang keluar dari hidungnya. Dan mengacuhkan cowok yang kini berada
disampingnya. Dari tadi cowok itu cuap-cuap kearah Resa untuk minta maaf dengan
apa yang ia lakukan tadi. Setelah darah yang keluar dari hidung Resa berhenti. Resa
menatap cowok itu dengan tampang bete.
“elo
marah ya sama gue? Kan gue udah minta maaf. Gue nggak tau kalau ada elo
disitu.” Kata cowok yang tidak diketahui namanya itu. Resa yang sangat marah
pada cowok itu, meninggalkannya sendiri. pria itu masih saja mengejar Resa agar
permohonan maafnya diterima. Tapi, Resa diam saja sambil berjalan. Resa melihat
mang Arif sudah datang, bergegas ke mobil dan mengacuhkan cowok yang telah
membuat hidungnya berdarah ditambah lagi sama cowok yang bernama Darma. Darma
bukan teman yang baik. Buktinya disaat Resa terkena musibah bukannya menolong
malah menghilang entah dimana.
“non
kenapa hidungnya? Kok merah?” suara mang Arif menyadarkan Resa dari lamunanya.
“oh
ini. Nggak apaapa kok mang, cuman gatel ajah tadi. Terus aku garuk jadi merah
deh!” dusta Resa lagi kali ini dia berbohong supaya mang Arif tidak khawatir
kepadanya. Mang Arif sudah terlalu baik kepada Resa dan keluarganya. Jadi Resa
tidak mau membuat mang Arif cemas. Untung saja darahnya tidak lagi keluar.
Sepanjang jalan menuju rumah Resa hanya bisa diam dan sesekali menghembuskan
nafas. Berharap esok menemukan hari yang lebih baik dari pada hari ini dan
tidak bertemu dengan pria-pria nyebelin. Terutama Darma. Darma? Kemana dia? Dasar cowok brengsek bukannya nolongin eh malah
kabur. Awas saja besok!
*
Tidak
tau kenapa hari ini Resa sangat gembira sekali. Senyumnya menghiasi
hari-harinya. Apalagi Darma, teman sebangkunya yang nyebelin itu tidak masuk
sekokah. Tidak ada keterangan apa-apa. Bagaimana mau naik kelas kalau kerjanya
sering bolos sekolah seperti hari ini. Tapi bodolah apa pedulinya toh ini yang
diinginkan Resa supaya nggak ketemu dia. Kalau ada dia juga, hari-hari Resa tidak tenang.
“Res,
ada yang nyariin elo tuh!”
“siapa?”
*
Resa
merasa cemas dan takut akan terulang lagi kejadian-kejadian yang ia alami
ditahun sebelumnya. Resa menerka-nerka apa yang akan dilakukan sahabat-sahabatnya
terhadapnya. Karena dari tahun ketahun pasti teman atau sahabatnya memberi surprise yang parah dan hancur!
Dikelas
Resa biasa saja melakukan aktivitas belajar seperti biasa di hari-hari
sebelumnya. Belum ada yang memberi ucapan selamat ulang tahun kepadanya. Bahkan
Darma teman sebangkunya juga tidak ngucapin, mungkin karena ia tidak tau atau
karena ia tak peduli. Bukannya dia orang yang cuek? Waktu itu sih nggak, tapi
setelah kejadian Darma nganterin pulang Resa, keesokan harinya Darma bersikap
cuek dan dingin. Darma itu tidak bisa ketebak, kadang apa yang dilakukannya
hari ini belum tentu sama dihari esoknya. Terus dia juga sering nggak masuk,
entah apa yang ia lakukan kalau tidak sekolah.
Dilangkahkanlah
kakinya meninggalkan ruang kelas menuju lantai bawah. perasaannya seolah-olah
ada yang berbeda yang akan terjadi pada sore ini. Menuruni anak tangga
selangkah demi selangkah. Masih tak ada yang berbeda masih sama seperti biasa.
Pikirannya tertuju pada setahun yang lalu di tanggal yang sama. Ketika sudah
berada dilantai bawah tiba-tiba serangan sebuah telor tepat mengarah di badan
Resa. Resa yang tau apa yang terjadi pada sore ini tak bisa berbuat banyak.
Serangan demi serangan bertubi-tubi kearahnya. Bau amis telor yang melumuri
badan dan rambutnya membuat orang-orang disekitarnya menutup hidung dan
disertai gelak tawa dari beberapa anak. Siapa lagi kalau bukan sahabat-sahabat
Resa. Resa yang di perlakukan seperti itu membalasnya dengan mengejar para
sahabatnya sambil berteriak-teriak kaya cacing kepanasan.
“awas kalian bakal
gue balessssssss!” teriak Resa.
“hahahahah” tawa
para sahabatnya dengan senang dan puas dengan apa yang mereka perbuat terhadap
Resa.
“happy birthday
Resaaaaaaaaaaa!” teriak sahabatnya bersamaan. Ketika itu Syisi membawa kue
ulang tahun dengan lilin berbentuk angka 16. Yap ulang tahun Resa yang ke 16. Mereka
semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun disertai tangis oleh Resa. Resa
sangat senang karena ia beruntung memiliki sahabat seperti Syisi, Mela dan
Rifka.
Hari ini adalah
hari yang takpernah terlupakan. Hari dimana umur Resa bertambah dan memiliki
sahabat yang mencintainya. Sahabat yang selalu ada di kala Resa senang dan
sedih. Sahabat yang tak ternilai harganya. Walau saat kelulusan nanti akan
berpisah tetapi hati dan jiwa kita akan selalu dekat. Karena sahabat tak pernah
mengenal kata berpisah.
*
Resa pulang kerumah
dengan keadaan yang memprihatinkan. Badan penuh telur dan tepung itu masih
setia menempel di badannya dan aroma busuk yang tersembur keluar. Siapapun yang
mendekatinya pasti akan illfeel.
Setibanya dirumah Resa mendapatkan kejutan dari keluarganya. Disana ada Papa,
Mama, Kak Ardian, Kak Rere, dan Kak Lian. Mereka semua menyanyikan lagu selamat
ulang tahun untuk Resa. Mama menyodorkan kue kerah Resa dan lilin diatasnya.
Resa langsung meniup lilin itu dan berdoa.
“happy birthdayyyy
adikkkku tersayang!” teriak kak Ardian
Resa tersenyum
melihat mereka yang begitu menyayanginya. Ternyata Ardian tidak seburuk apa
yang dipikirkan Resa.
“elo bau banget!
mandi sonooo!” titah Ardian setelah mencium bau yang tak enak dari tubuh Resa.
“iyaiya! Semuanya
terima kasih ya. Aku seneng banget!” segera bergegas kekamar untuk berganti
pakaian.
Mereka sudah
berada di taman belakang. Mereka menyiapkan pesta kecil dan hidangan makanan
yang lezat. Semua anggota keluarga merayakan dengan gembira. Hari yang paling
special untuk Resa.
*
Ini hari kelima dia tidak masuk
sekolah! Apa sih yang dia kerjakan diluar sana? Mau jadi apa kalau kerjanya
bolos terus!
“kalian tau nggak
sih. Masa gue disuruh sama pak Jojo kerumahnya Darma. Buat cari tau kenapa dia
nggak masuk! Nambah kerjaan ajah sih! Nyusahin banget sih tuh anak!” sesal Resa
kepada Darma. Ia sedang berada di kantin bersama temannya.
“emang udah berapa
hari dia nggak masuk?” tanya Rifka yg
berada didepan Resa
“lima hari! Gila
tuh!”
“nyalinya gede
juga! Nyari masalah!”
“emang elo tau
rumahnya?”
“nah mangkanya
itu, gue pusing! Gue sih emang sebangku sama dia. Tapi bukan berarti gue tau
segala hal tentang dia. Termasuk rumahnya!”
“gitu ajah pusing!
Kan elo bisa cari alamatnya didata siswa!” saran Mela
“bener kata Mela!”
respon Rifka
“iya tuh,
kadang-kadang pinter juga yah!” balas Syisi
“kalian bantuin
gue ya? Plisss!!” mohon Resa
Ketiga sahabatnya
saling menatap satu sama lain. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk membantu
Resa.
“iyaiya kita
bantuin!” kata Rifka
“Thank you girls!”
Resa sambil memeluk ketiga sahabatnya.
*
Setelah Resa
mengetahui alamat Darma yang ia cari di biodata siswa, sore itu iya langsung
mencari alamatnya. Untung saja alamat yang dituju tidak terlalu asing bagi
Resa. Alamat yang dicari tak terlalu sulit.
Tibalah Resa dan
teman-temannya dirumah cat putih bersih nan luas. Cukup besar. Sepertinya Darma
anak orang kaya. Yah seperti itulah kelakuan anak orang kaya. Yang hanya bisa
menghabiskan harta orang tuanya saja. hari untuk sekolah saja ia pergunakan
untuk kesenangan.
Resa memencet bel
terus menerus. Tak lama itu keluarlah seorang wanita paruh baya. Terlihat
lusuh.
“silakan masuk
non!” katanya mempersihlakan.
“terimakasih!”
Resa memasuki
rumah yang lumayan besar itu. Perabotan rumahnya yang tertata rapih serta
lukisan-lukisan yang indah dipandang itu membuat Resa kagum. Ia melihat sangat
detail yang ada di rumah itu.
“silakan duduk!”
“saya ambilkan
minum dulu”
“mbokkk!” panggil
Resa sedikit keras
“saya dan teman
saya dateng kesini ingin bertemu Darma” jelasnya
“oh kalian temanya
den Darma!”
“iyaa”
“maaf Non. Darma
sudah seminggu tidak pulang kesini!” katanya
“tidak pulang
kesini? Emangnya Darma punya rumah berapa Mbok? Wah kaya sekali!”
“hanya satu.
Maksud saya dia sudah seminggu tidak pulang dan saya tidak tau dia dimana!”
jawab Mbok
“orangtuanya
kemana Mbok? Mereka tidak mencarinya?” tanya Resa. Resa heran dengan kelakuan
teman sebangkunya itu. Hanya bisa ngerepotin orang saja. teman Resa hanya bisa
diam karena mereka tidak tau tentang Darma.
“mereka ada di
Spanyol. Ada bisnis disana. Mereka sibuk. Saya sudah beritahu mereka. Tapi
belum ada respon yang berarti.” Jelas Mbok
“apa mungkin di
culik ya!?” pikir Resa.
“Husss, ngaco bae
lu ngomong!” seru Mela
“tau nih!” sambar
Rifka
“maaf-maaf!”
“kalau diculik...
kaya nya tidak deh. Waktu den Darma tidak pulang dua minggu. Beberapa harinya
ia kemabali kesini.” Pikirnya. Mbok melanjutkan kata-katanya lagi. “saya rasa
den Darma tinggal ditempat lain dan mengurusi sesuatu. Walaupun saya tidak tau
dia dimana.”
“apa mungkin
seperti itu yah, tapi Mbok Darma beberapa hari ini juga tidak masuk sekolah.
Saya datang disini untuk cari tau itu.”
“kalau urusan itu
Mbok tidak tau. Den Darma orangnya baik. Kalau urusan sekolah menurut Mbok dia
kalau lagi mau ajah. Jadi sesuka hatinya dia.”
“aduh saya bingung
Mbok, harus bagaimana!? Masalahnya saya disuruh sama Pak Jojo wali kelas saya!”
“Mbok juga bingung
non!”
“eh gimana nih?”
tanya Resa kepada teman-temanya.
“gue nggak tau!”
Syisi
“apa pulang ajah?”
kata Rifka
“yaudah deh Mbok
kami pulang dulu. Kalau Darma pulang beritahu dia kalau saya nyari.”
“oke non nanti
saya sampaikan”!
Resa dan
teman-temannya pamit pulang.
“Res mau cari
kemana lagi?” teriak Mela dari belakang Resa
“nggak tau! Gue
ajah nggak tau apa-apa tentang dia?”
“dimana sih tuh
orang! Bikin jengkel kita ajah! Kasian kan temen gue yang satu ini bakal
kepikiran dia terus!” gerutu Rifka.
“nggak mungkin lah
gue mikirin dia! Lagian juga gue tinggal bilang ke Pak Jojo kalau dia nggak ada
dirumah. Beres kan! Simple!” balas Resa sedikit emosi.
“yaudah guys
pulang ajah! Panas nih!” kata Syisi
“yaudah ayukkk!!”
balas Rifka
Resa yang sudah
tiba dikamarnya langsung rebahan diatas kasur empuknya. Ia terus penasaran
dengan Darma. Ia memikirkan apa yang sedang dikerjakan pria itu diluar sana. Tak
sadar ternyata ia terlelap dikasurnya sampai keesokan harinya.
*
“gila ini
buku-buku numpuk nggak berarturan!” dumel Resa.
Entah sudah berapa
lama ia tak menyentuh buku-buku yang menumpuk tak karuan itu diatas meja
belajarnya. Dan berserakan disudut kamar dekat lemari baju. Entah buku apa saja
itu. Kalau dilihat-lihat sepertinya buku-buku itu buku lamanya Resa. Mungkin buku-buku
waktu SD atau SMP. Iya itu buku pelajaran semua. Walau Resa sedikit malas, tapi
walau malas ia tak pernah rela buku-bukunya dijual ke pengepul buku-buku bekas.
Ia lebih memilih buku-bukunya berserakan dari pada dijual.
Ia merapika
buku-bukunya. Ada sedikit debu yang menempel sampai ia terbatuk-batuk.
Buku-buku itu ditaruhnya ke dalam karung yang ia ambil dari gudang.
“wah ini kan
binder gue!” Resa menemukan bindernya disalah satu tumpukan bukunya. Dilihatnya
lembar per lemabar. Dan ia membaca isi dari tulisannya. Ternyata lucu juga kalau
ngebaca tulisan-tulisan lama.
17 Februari 2009
Haiii.....
Aku punya
teman dekat namanya Indra,
rumah aku dan dia lumayan dekat. Dia juga teman sebangku aku waktu aku duduk
dibangku sekolah dasar. Tahun kelahiran kami juga sama, karena yang paling tua
umurnya waktu itu aku dan Indra.
Bukannya aku tidak naik kelas tapi, waktu mulai masuk taman kanak-kanak aku
telat setahun. Sedangkan Indra,
dia tidak naik kelas 5 SD. Awalnya aku sedikit kecewa kepadanya, karena dia
tidak naik kelas. Mungkin waktu itu aku berfikir dia itu bodoh. Setelah aku menjalani kehidupan bersama dia
selama kelas 5 SD dan dia menjadi teman sebangku aku, aku merasa dia tidak
bodoh-bodoh banget. Manusia itu bisa berubah kan? Apalagi berubah lebih baik!
Kenapa aku bisa sebangku dengannya? Karena wali kelas kami yang mengatur tempat
duduk di kelas kami. Dia itu anaknya kocak, kadang-kadang nyebelin, pernah
waktu itu dia bikin aku nangis. Gara-gara dia ngatain aku cengeng. Memang dulu
aku sedikit cengeng. Hehehe. Dia perhatian juga sama aku, solid, berani terima
tantangan. Dia juga termasuk salah satu siswa cowok yang larinya paling cepat.
Jago berenang juga! Pokonya banyak pengalaman-pengalaman seru saat aku bersama
dia. Dia juga banyak yang nyukain, termasuk aku. Awalnya aku sih biasa saja.
Aku tidak merasakan apa-apa waktu sama dia. Aku menyadari setelah terjadi
sesuatu di hatiku. Ketika aku mulai memasuki dunia Sekolah Menengah Pertama,
aku tidak lagi bermain dengannya apalagi sekedar menanyakan kabar. Dan rumah ku
juga pindah membuat aku dan dia semakin jauh. Dulu waktu masa kecilku Hp saja
tak punya. Hp jadul dibilang anak-anak jaman sekarang saja, termasuk yang wah
banget waktu itu. Foto dia saja aku tak punya termasuk dia. Dia cowok pertama
dalam hidupku yang tak paling istimewa sampai sekarang. Kadang ketika aku
sedang sendiri, bayang-bayang waktu bersamanya menari-nari dalam pikiranku.
Membuat aku sangat merindukannya. Aku tak berani untuk kerumahnya. Karena waktu
itu egoku sangat tinggi. Aku malu kalau cewek duluan yang nyamperin cowok.
Banyak alasan yang membuatku tak berani kerumahnya. Banyak yang berubah
denganku, mulai dari fisik ku yang mulai mengalami masa puber sampai dalam
kehidupanku. Aku juga mulai merasakan yang namanya cinta monyet. Apalagi yang
membuatku bahagia waktu aku dapat nomer HP Indra. Aku mulai smsan sama dia,
telpon-telponan. Banyak hal yang dia ceritakan tentang kisah cintanya kepadaku.
Aku kecewa banget waktu dia suka sama cewek lain. Tapi kutahan, mungkin cintaku
sebatas teman saja! Begitu semangatnya dia berecerita dan senang ketika
akhirnya dia jadian sama cewek yang dia suka. Dia cerita tentang kisah cintanya
melalui sms atau telpon. Mendengar suaranya saja aku senang banget. Walau dia
tidak menyadari betapa aku mencintainya. Pernah dia ngajakin untuk bertemu,
tapi aku tolak terus mungkin waktu itu aku sibuk. Seiring berjalannya waktu,
perasaan itu sedikit demi sedikit memudar dan aku menemukan cinta yang lain.
Mungkin itu yang tebaik menghapuskan perasaanku kepadanya. Walau dia sudah
memiliki pasangan dan aku masih suka-sukaan biasa dengan orang lain, tak
sedikitpun aku melupakannya. Hanya saja aku mencoba untuk melupakan rasa sukaku
ke dia. Sampai akhirnya aku putus kontak, nomernya tidak aktif! aku
mencari-cari nomer barunya, tapi tidak dapat. Aku berfikir positif saja,
mungkin dia bukan yang terbaik dalam hidupku. Dan mungkin aku tidak berjodoh dengannya.
Ini seperti
Dejavu! Tiba-tiba saja Resa mengingat Darma. Yang ia alami dengan Indra hampir
sama dengan Darma. Indra tidak naik kelas Darma juga. Hanya saja bedanya Indra
tidak naik kelas waktu SD, sedangkan Darma SMA. Indra suka olahraga, Darma
juga. Indra nyebelin kalau Darma sepertinya iya. Apa mereka orang yang sama?
Nggak mungkin! Resa tidak ingin mengingat Indra lagi. ia langsung cepet-cepat
menyudahi membacanya dan membereskan buku-buku itu.
“Awas ajah tuh
anak kalau masuk sekolah nanti, gue bejek-bejek
. gara-gara dia hidup gue nggak tenang!” dumel Resa.
*
“baaaanggggunnn!!!!”
teriak Agra ketelinga Resa. Resa yang masih pulas dengan seketika terbangun
dengan suara itu. Yap suara ka Agra. Resa yang masih setengah ngantuk langsung
ngomel-ngomel dan melempar bantal-bantal yang ada disekitarnya ke arah kak
Agra.
“kakak apaan elo!
Jahat banget! kalo telinga gue budeg gimana? Mau tanggung jawab?” hentak Resa.
“elo yang gue
bangunin, kaga bangun-bangun. Liat tuh jam! Udah jam berapa?!” menunjuk kearah
jam dinding yang menghadap tepat di tempat tidur Resa. Resa segera melihat
kearah yang ditunjuk Agra. Matanya yang bulat dan hampir mau keluar itu kaget
dengan apa yang dilihatnya. Jam itu menunjukkan pukul 06.15.
“aaappaa? Gue
telatttttttt!” teriak Resa.
Resa tergesa-gesa
menuju sekolah, 15 meter dari gerbang sekolah Resa melihat pintu gerbang sudah
tertutup. Ia terus berlari sampai gerbang itu tak memberi kesempatannya untuk
masuk. Ia mohon-mohon ke security
sekolah untuk membuka pintu gerbang. Dan didapat adalah security itu tak mau membukakannya, dengan raut wajah kecewa Resa
memutuskan untuk pulang saja. langkah gotai ia terus berjalan sambil ngedumel
sendiri. Baru kali ini Resa telat masuk sekolah, karena sebelumnya ia tak
seperti ini. Entah siapa yang harus disalahkan. Ia tak ingin orang tuanya tau
kalau ia tidak sekolah terutama kak Agra yang super duper nyebelin itu.
Resa terus
berjalan sampai akhirnya ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang
membuat Resa terenyah dan sepontan menoleh kebelakang. Yang di lihatnya adala
Darma. Cowok yang membuat Resa sedikit jengkel.
“kenapa nggak
sekolah? Bolos yaaa?” ledek Darma.
Resa terdiam
ketika melihat Darma. Perasaan Resa langsung berubah. Perasaan yang tak bisa
diungkapkannya. Terkadang timbul rasa senang, sedih, jengkel, benci. Darma
terus-terusan meledek Resa. Resa tak bisa membalasnya. Karena pikiran resa
tidak fokus dengan pertanyaan Darma.
“haiii lihat jam
berapa ini? Sudah jam tujuh!” Darma sambil memperlihatkan jam tangannya kearah
Resa.
“elo mau bolos?”
teriak Darma
“gue tadi tuh udah
kesekolah, terus karena gue telat yaudah gue pulang!” jelas Resa yang akhirnya
bisa mencerna pertanyaan Darma.
“lahhh elo kenapa
disini! Elo mau bolos juga yaaa?!” gantian Resa meledek Darma.
“nggak kok, gue
sama kaya elo! Nggak boleh masuk karena terlambat!”
“terus
elo mau kemana?” lanjut Darma.
“
yahhh mungkin gue pulang!” jawab Resa sambil mikir.
“yakinn
pulang? Emang elo nggak bakal dimarahin sama nyokap? Kenapa elo nggak sekolah?”
“bener
juga sihh, terus gue harus kemana dongg?”
“elo
ikut gue ajah!” sambil menarik tanga Resa.
“kemanaa?”
memasang tampang curiga.
“tenang
ajah gue nggak bakal ngapa-ngapain elo kok” sambil memegang tangan Resa.
“ihhh ada apa sih?
Elo mau bawa gue kemana? Jangan macem-macem lo ya!” ancam Resa.
“ihh ini anak
bawel banget sih! Siapa juga yang mau ngapain-ngapain lo! Nggak ada untungnya!
“apa
elo bilang?!”
“jalan
elo lelet banget sih! Kaya siput!”
“biarin!
Bleeeeee!”
Tibalah mereka
berdua disuatu tempat, tempat yg cukup asing bagi Resa. Sebuah rumah gubuk
kecil sederhana. Dikelilingi pohon-pohon yang rindang. Tempat yang belum pernah
di jajaki oleh Resa sedangkan Darma tau ada tempat di Jakarta yang seperti ini.
Seperti Jakarta tempo dulu. Agak sedikit jadul tapi masih memakai unsur-unsur
rumah jaman dulu. Sepertinya tidak ada perbaikan atau renovasi dari rumah
tersebut. Letak rumahnya disudut kota, pinggiran kota Jakarta.
“rumah siapa nih? Masih
ada rumah seperti ini di Jakarta? Keren!” Resa kagum dengan kontruksi rumah
yang masih mempertahankan kebudayaan Jakarta.
“ini rumah nenek gue
dari nyokap! Tapi nenek gue udah meninggal.” Kata Darma. Diambilnya kunci dari
dalam tas, segera ia membuka pintu. Aksesori-aksesori jaman dulu banget masih
tertata dengan baik, tidak ada debu sedikitpun. Rupanya sepemiliki rumah rajin
merawat rumah ini.
“ayook masuk! Duduk
disini! Elo mau minum apa?” perintah Darma sembari menawari minum. Resa sangat
terpesona dengan barang-barang antik dirumah itu, beberapa lukisan, dan
foto-foto jaman dulu. Rupanya ada foto neneknya Darma ketika beliau masih muda
beserta suami.
“elo suka sama
rumah ini?” tanya Darma sambil menaruh minum diatas meja.
“iyaa kayanya
nenek elo itu suka keindahan dan tetap mempertahankan barang-barang antik
sampai gua nggak tau barang apa itu”
“rumah ini sebenernya
pengen dijual sama nyokap...
“apa dijual?”
tanya Resa antusias tidak sampai Darma melanjutkan perkataannya langsung
dipotong Resa.
“beberapa hari ini
gue tinggal disini, rencana penjualan rumah ini udah gue gagalin. Gue berusaha
untuk mempertahankan rumah ini, padahal ini satu-satunya peninggalan dari nenek
gue. Dari kecil gue udah tinggal disini. Yang ngerawat gue adalah beliau, gue
selalu ditinggal sama bokap nyokap. Yah mereka bilang itu urusan pekerjaan. Gue
sedih banget setelah tau kalo rumah ini bakal dijual.” Cerita Darma yang mulai
mengharukan. Sorotan matanya menerawang seolah menggabarkan suasana hatinya,
Resa larut dengan cerita Darma seolah merasakan apa yang dirasakan Darma.
“gue cukup
prihatin, kalo jadi elo, gue bakan tetep pertahanin rumah ini bagaimanapun
caranya. Gue yakin elo bisa ngelakuin itu.” Kata Resa yang menyemangati Darma.
“thanks ya!” balas
Resa sekenanya sambil tersenyum ke arah Resa. Resa juga membalas senyum yang
indah itu, senyum yang belum pernah dilihat oleh Resa selama ia mengenal Darma.
“jadi selama ini
elo nggak masuk sekolah itu, elo disini? Apa yang elo lakuin disini?” tanya
Resa beralih pada pertanyaannya yang selama ini berada dibenaknya.
“gue lebih nyaman
tinggal disini ketimbang rumah nyokap bokap, gue disini punya usaha. Yah cukuplah
buat penghidupan gue. Kalo alasan gue nggak sekolah, yah karena gue males
sekolah yang gitu-gitu ajah, nggak ada yang menarik. Kalo lagi pengen latihan
silat ya kada pergi sekolah.”
“jadi elo
kesekolah cuman buat latihan silat? Oh my God! Seharusnya elo bersyukur bisa
disekolahin sama ortu lo, banyak orang diluar sana kepengen sekolah karena
hambatan biaya, sedangkan elo malah nyia-nyiain kaya gini! Gimana sih?” suara
Resa sedikit meninggi. Suasana mulai sedikit berubah dari awalnya.
“iya gue tau gue
salah, nggak seharusnya gue kaya gini. Gue janji gue bakal masuk sekolah terus
demi elo!”
“apa elo bilang
demi gue?”
“ehh maksud gue
demi ortu dan teman-teman gue, hehehe”
Hari itu mereka
seharian menghabiskan waktu bersama, bercerita-bercerita, bercanda-tawa. Resa
yang awalnya membenci Darma setelah hari ini ia sedikit menyukai Darma. Ada sisi
lain yang berbeda dari Darma. Ada ada sedikit perubahan darinya yaitu ia tak
bolos sekolah lagi, tapi ada satu yang membuat Resa jengkel dari Darma yaitu
Darma masih suka ngejahilin Resa. Terkadang bikin Resa bete dan sempet marahan.
Tetap Darma jago mencairkan suasana yang tegang menjadi ceria.
bersambung...