Kring…
kring... kring… terdengar suara telpon rumahku berdering, yang berada di sudut
rumahku dekat lemari berisi penyimpanan gelas-gelas antik koleksi mamaku. Waktu
menunjukkan hampir tengah malam. Orang-orang dirumahku sudah tidur semua. Cuman
aku yang masih terjaga. Kamarku yang berada dilantai atas dan letak telpon
rumahku yang berada dilantai bawah, mengharuskan aku untuk turun kebawah dan
ingin memaki seseorang yang menelpon orang larut malam. Kumulai menuruni anak
tangga rumahku dengan langkah gontai. Setelah aku berada dilantai bawah hawa
yang tadinya biasa saja menjadi sedikit dingin dan menyeramkan, ditambah lagi
kedaan rumah yang remang-remang, sepi dan sunyi. Dering telpon itu semakin
menjadi-jadi yang mengharuskan siapa saja untuk menerima telpon dari seseorang
misterius itu.
Bulu
kudukku mulai berdiri, seolah-olah dengan keadaan rumah yang gelap aku
menangkap bayangan hitam yang ternyata itu hanya perabot rumahku saja. Aku
mulai mencari-cari sakelar. Setelah kuhidupkan lampu, aku berjalan menuju
sumber suara telpon yang masih berteriak-teriak untuk diangkat. Setelah aku
mendekat, suara dering itu berhenti. Mungkin karena aku lama mengangkatnya.
Atau saja seseorang yang menelepon tengah malam itu menyerah menunggu seseorang
membalas telponnya. Aku menunggu beberapa menit siapa tau saja seseorang itu
menelepon lagi. Tapi kenyataannya tidak. Karena kesal aku menunggu siapa orang
yang berani-beraninya mengganggu tidur malamku, ku putuskan untuk kembali
kekamar. Tidak sampai beberapa langkah dering telpon rumahku berbunyi lagi. Aku
mulai mengangkatnya.
“halooo…”
kataku. Tapi tidak ada jawaban sedikitpun atau bunyi apapun. Hawa dingin,
sunyi, sepi dan mencengkram kembali aku alami. Aku tidak bisa berfikir jernih
karena tiba-tiba lampu dirumahku mati. Aku hanya diam sambil memegang gagang
telpon. Kurasakan ada tangan yang memegang pundakku, dan sekarang tangan itu
mulai menjalar ke leherku. Aku dicekiknya. Aku berusaha untuk melepasnya namun
tidak bisa. Cekikannya semakin kuat dan aku mulai tidak bisa bernafas. Nafas ku
mulai tidak teratur.
Dannnnn…..
itu hanya mimpi. Aku mimpi buruk. Kulihat jam masih jam setengah satu.” Oh my
God…” sebutku. Aku kembali tidur setelah aku terjaga. Tapi… mimpi itu
seolah-olah nyata sampai aku tidak bisa tidur. Ku ambil selimut dan menutupi
semua tubuhku. Tunggu dulu! Suara apa itu? Pikir ku. Suara itu… yah benar.
Suara dering telpon rumah ku. Tapi, bagaimana bisa mimpi ku tadi menjadi
kenyataan? Apakah aku akan dicekik setelah menerima telpon itu? Atau aku akan bertemu
hantu? Tidak, tidak, aku tidak akan mengangkatnya. Suara itu semakin keras dan
menyeramkan walau aku berada di lantai atas tapi tetap saja suaranya
menyeramkan.
Aku tutupi
tubuhku dengan selimut dan menutup kupingku agar aku tak mendengar. Ada suara
lagi dirumahku sepertinya aku kenal. Yah aku mengenalnya. Itu dering ponselku.
Ponselku berada di meja samping tempat tidurku. Aku mulai mengintip dari balik
selimut dan melihat ponselku yang menari-nari dimeja. Aku mengambilnya dan
melihat nama yang tertera di layar ponsel ku. NO NUMBER yang tertera disana.
Siapa yang menelponku selarut ini? Apa si penelpon misterius itu seseorang yang
sama yang baru saja menelpon ke nomor telpon rumahku? Jantungku mulai tidak
stabil. Aku pencet tombol answer yang
tertera dilayar ponselku. Ku dengar seseorang disebrang sana menghembuskan
nafas, aku hanya diam saja tanpa bersuara.
“happy
birthday Clara !”apa? Siapa yang ulang tahun? Aku? Benarkah? Ia benar aku berulang
tahun. Aku lupa kalau hari ini adalah ulang tahunku yang ke-22. Tapi siapa dia?
Sipenelpon itu?
“selamat
ulang tahun adikku yang manja, Clara! Kenapa kamu diam? Apa kamu lupa padaku?
Kakakmu yang ganteng ini?” balasnya lagi karena dari tadi aku tidak bersuara.
apa? Kak Ardian? Ia benar itu dia. Kak Ardian adalah kakak angkatku yang kini
tinggal di Singapur. Tapi sudah lama ia tidak menghubungiku kurang lebih empat
tahun. Mungkin karena ia sibuk. Sibuk kuliah, tentu saja. Karena kak Ardian
mendapat beasiswa kuliah di Singapur.
“haloo?
Kamu kenapa? Ada sesuatu yang terjadi disana? Dari tadi kamu diam saja?” Tanya
kak Ardian sekian kalinya karena aku tidak menjawab ucapannya.
“kak
Ardian?” jawabku kaget
“iya ini
aku?”
“kak
kenapa malam-malam nelpon? Bikin aku takut ajah, kakak juga yang nelpon ke
telpon rumah?”
“hahaha
kamu takut ya malem-malem di telpon orang? Untung kakak yang telpon kalau hantu
gimana? Hahaha” balas kak Ardian yang mulai menakut-nakuti.
“ihhh…
kakak, kalau aku jantungan gimana? Apalagi aku dikamar sendiri!” keluh ku
kepadanya.
“adikku
yang satu ini memang penakut!”
“kak,
kapan pulang?”
“pulang?
Hemm gimana ya? Kamu kangen sama aku ya?”
“kangen?
Tentulah, berapa lama kau meninggalkan kami disini? Apa sedikitpun kau tidak
rindu pada kami?”
“maafkan
aku tidak bisa menghubungi kalian, bukan karena aku tak rindu, karena tugas
kuliah ku disini sangat padat sampai-sampai mengangkat telpon saja tidak bisa”
jelas ka Adrian. Suaranya yang lembut membuat aku semakin merindukannya.
“kapan
pulang?”
“minggu
depan aku akan ke Jakarta!”
“benarkah?
Aku harap secepatnya kau pulang, betapa kami merindukanmu kak!”
Setelah
percakapan ku dengan kak Ardian, aku akhirnya bisa tidur nyenyak.
*
Aku dan
keluargaku sedang berada dibandara Soekarno-Hatta, kami sedang menunggu
seseorang yang sudah lama tak kami temui. Dialah kak Ardian. Kakak yang sangat
kurindukan. dialah cinta pertamaku. Awalnya aku tidak menyangka kenapa aku bisa
jatuh cinta padanya. Aku dan kak Ardian tidak pernah menganggap kami itu
adik-kakak, kami menjalani hubungan sebagai kekasih. Kami pacaran diam-diam,
sampai akhirnya mama tau hubungan kami. Mama yang syok dengan hal itu,
mengharuskan kami untuk mengakhiri hubungan kami. Walau aku dan kak Ardian itu
tidak sedarah, mama tetap menentang hubungan kami. Begitu beratnya menanggung
beban ini, berbagai cara yang kulakukan untuk melupakan perasaan itu, tapi
selalu gagal. Sampai akhirnya mama mengirim kak Ardian ke Singapur dan ia juga
mendapat beasiswa disana. Sudah 5 tahun ini kami tidak bertemu. Awalnya aku sangat
berat dengan keputusan mama, tapi aku harus bisa melupakan perasaan ku kepada
kak Ardian. Pertemuan ini adalah pertemuan pertamaku setelah kepergian kak
Ardian 5 tahun lalu. Untuk perasaan ku saat ini… aku sungguh masih
mencintainya. Demi mama kukorbankan cintaku. Aku tidak tau apa kak Ardian masih
mencintaiku atau tidak. Aku harap tidak. Aku harap kak Ardian bisa menerimaku
sebagai adiknya, bukan sebagai kekasihnya. Biarlah aku yang sendiri
merasakannya.
Seorang
pria yang tak asing bagiku melambai kearah kami. Dia kak Ardian. Senyumnya yang
menghiasi wajahnya sama seperti dulu tak ada yang berubah hanya style rambutnya
saja yang berubah. Aku senang bisa bertemu dengannya. Dia memeluk mama dan aku.
Aku berusaha menahan perasaan ini. Dalam perjalanan kami kerumah, kami tak
sedikitpun menyingung kejadian 5 tahun lalu. Berat untuk kami mengingat
kejadian 5 tahun lalu. Membuat aku harus berpisah dengannya.
Aku rasa
kak Ardian benar-benar sudah melupakan kejadian itu, dia seperti kakak yang
kuinginkan. Kejadian itu kesalahan aku dan kak Ardian. Entah awalnya dari mana
sampai-sampai kami memiliki perasaan yang sama. Mama sangat kecewa padaku,
terutama kepada kak ardian. Dia tidak bisa menjagaku sabagai adiknya. Aku harap
aku terus bisa bersandiwara. Aku harus bisa mencari pengganti kak Ardian yang
pernah ada di hatiku. Andaikan aku bisa… mungkin aku tidak seperti ini.
Ketahuilah aku masih mencintaimu, kak!
*The
End*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar