Dia melihat seperti itu lagi! Kata-kata
yang selalu menari-nari dalam pikiran Vian tanpa di sadari. Dilangkahkan kaki
jenjangnya keluar kelas menuju kelas sahabatnya, setelah mendengar bel tanda
istirahat. Perasaan aneh datang mendadak setiap pria itu menatap kearah Vian. Pikiran
heran dan bingung terhadap pria itu selalu muncul dalam otaknya. Vian tidak
mengenal pria itu, ia hanya tau kalau pria itu bernama Rain dan ia kelas 12 IPA
2. Sekedar menyapa saja tidak pernah dilakukan selama di sekolah. Vian juga
tidak memperdulikan dengan siapa dan apa yang ia lakukan. Tatapan mata yang
tajam dan penuh arti itu, seolah-olah ingin berbicara. Kejadian itu selalu
dialami Vian setiap mata pria itu bertemu dengan mata Vian. Badan terasa kaku,
lidah kelu, mata yang seolah terhipnotis dengan keberadaan pria yang duduk di
kursi panjang depan kelas Vian memaksa untuk terus menatapnya. Dienyahkan pandangannya ketika ia menyadari
berapa lama ia menatap pria tersebut. Ingin rasanya Vian menanyakan kepada pria
tersebut apa maksud tatapannya itu. Apa seperti itu kah ia menatap ke semua
orang? Atau hanya kepada Vian saja? Entahlah!
Tiba di
kelas 12 IPA 1, Vian menemui sahabatnya yang biasa berkumpul disana. Vian belum
menceritakan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini kepada sahabatnya. Apa ini
hanya firasat yang salah atau Vianlah yang salah mengartikan tatapan itu? Hanya
Tuhan yang tau apa yang terjadi sebenarnya. Vian duduk di samping Meri. Kelima
sahabat itu berbincang-bincang disertai gelak tawa. Kejadian yang tadi di
lupakannya sejenak. Pikirannya tak lagi memikirkan pria tersebut. Sampai bel
tanda masuk berbunyi dan Vian keluar menuju kelasnya. Vian bersahabat dengan
Meri, Risyi, Mia dan Florya sejak kelas satu SMA. Karena pada waktu itu mereka
sekelas dan duduk agak berdekatan satu sama lain, membuat persahabatan mereka
berlanjut sampai sekarang walau tidak lagi sekelas.
Setelah
bel tanda masuk, dan guru memasuki kelas Vian, ia mengikuti pelajaran dengan
baik. ketika waktu sholat Dzuhur pun, ia tidak mengalami kejadian yang sama
seperti waktu istirahat. Setidaknya tidak terulang di hari yang sama. Ingin
rasanya memaki pria itu dan menanyakan apa maksudnya ia melakukan hal itu.
Membuat hari-hari Vian selalu memikirkan pria tak dikenalnya itu.
“Vi!”
panggil seseorang dari belakang ketika Vian sedang berjalan menuju gerbang sekolah. Membuat Vian
dengan spontan menoleh kebelakang. Disadarinya, ia adalah Reno. Reno adalah
teman sekelas Vian.
“ada apa
Ren?”
“kenapa
langsung pulang? Bukannya elo hari ini piket?” kata Reno memberitahu kalau hari
ini Vian piket kelas. Dan biasa dilakukan pada jam pulang sekolah.
“emang ini
hari apa? Tanya Vian polos. ia bukan menghidari tugas piketnya, melainkan ia
lupa kalau hari ini giliran ia piket kelas.
“Rabu! Elo
nggak piket? Nanti dimarahi Pak Nardi! Elo kayak nggak tau ajah wali kelas killer kita!” katanya mengingatkan. Pak
Nardi adalah guru Fisika kelas 12 IPA. Ia salah satu guru ter-killer di sekolah SMA Pelita, Jakarta.
Dan pak Nardi juga sangat memperhatikan kebersihan kelas yang ia pegang selama
menjadi wali kelas.
“oh iya
gue lupa, thanks udah ngingetin!” menyadari kalau ia piket hari ini, ia
bergegas kembali ke kelas 12 IPA 3, yaitu kelasnya.
Ada
beberapa siswa-siswi dikelas tersebut sedang membersihkan kelas. Ada yang
nyapu, mengelap kaca, menghapus papan tulis dan merapikan meja dan kursi. Vian
mengambil sapu yang berada di dalam lemari. Ditaruh tasnya di atas meja dan
mulai menyapu. Setelah tugasnya selesai, ia akhirnya bisa pulang. Ketika
melewati lapangan, dilihatnya ada beberapa ekschool yang sedang berlatih di
lapangan. Disana ada anak silat, teater, dan Futsal. Karena lapangannya sangat
luas dan cukup untuk ketiga ekschool tersebut. Trik matahari yang panas tak
membuat anak-anak itu merasakan lelah yang berlebihan. Mata Vian tertuju pada
anak-anak silat, dan pria yang selalu membuatnya berfikir. Ia adalah Rain. Oh ternyata dia anak silat. pikirnya.
Rain seperti siswa pada umumnya tak ada yang berbeda. Tatapan matanya ke orang
lain juga biasa saja. Tunggu dulu! apa? biasa saja? Berarti tatapan itu hanya
untuk Vian? Oh Tuhan, ada apa ini? apa maksudnya? Tanda tanya besar!
Rain
sempat melihat Vian. Ia juga melihat Vian keluar dari kelas menuju gerbang
sekolah sampai Vian menghilang dari pandangannya, tapi setelah itu melanjutkan
kegiatannya lagi.
Vian
berdiri didepan gerbang sekolah, ia sedang menunggu bang Ajis. Bang Ajis adalah
tukang ojek Vian dari SD sampai sekarang. Bukannya tak berani. sebenarnya Vian ingin sekali pulang bersama
sahabatnya. Tapi mama Vian tidak memperbolehkan anakanya pulang sendiri atau pun
bareng teman yang lain. Karena mama Vian tidak mau kejadian waktu kelas 3 SD
menimpa Vian lagi. Vian waktu itu sempat diculik oleh dua orang tak dikenalnya.
Ketika ia sedang menunggu bang Ajis yang tak kunjung datang. Diputuskannya
untuk pulang sendiri. Vian sangat hafal jalan pulang. Ketika ia sedang berjalan
ia dihadang dua orang laki-laki, kedua orang itu ingin menculik Vian, tapi
keburu bang Ajis datang dan menyelamatkan Vian dari dua orang tersebut. Bang
Ajis memukul kedua orang itu, dan akhirnya mereka kabur. Vian pada saat itu
hanya bisa menangis. Sesampai dirumah, bang Ajis menceritakan semua. Membuat
mama Vian tak mengijinkan Vian untuk pulang sendiri.
Vian sudah
beberapa kali meminta mama untuk mengijinkannya agar tidak dijemput bang Ajis
lagi, tapi mama selalu menolaknya. Cuman karena alasan yang sama. Mama memang
sayang sama Vian. Tapi kalau terus dibatasi seperti ini, membuat Vian tidak
kuat menjalani kehidupan seperti ini. Vian berkata ke mama kalau umur Vian
sudah 17 tahun, mama tidak akan membatasi kebebasan Vian lagi. Awalnya mama
agak sedikit ragu akan permintaan tersebut. karena bujukan papa juga akhirnya
mama menyanggupi permintaan Vian. Tapi masalahnya umur Vian belum 17 tahun. Dan
masih dua bulan lagi.
Bang Ajis
tak kunjung datang, membuat Vian lama menunggu. Sempat berfikir untuk pulang
sendiri, tapi takut mama khawatir. Diputuskannya untuk menunggu saja. Wajah
yang lelah dan keringat bercucuran di wajah Vian setelah melakukan aktivitas
sekolah yang padat.
“mau
bareng?” kata seseorang yang menawari Vian untuk pulang bareng naik motornya.
Vian menoleh kearah sumber suara itu. dan ternyata dia adalah Rain. Akhirnya
Rain mengajak bicara duluan kepada Vian. Vian yang menyadari itu Rain sedikit syok, dan
mengalihkan pandangannya agar matanya tak bertemu dengan mata Rain.
“terimakasih,
tapi gue lagi tunggu ojek gue!” tolaknya secara halus.
“mau
sampai kapan elo nunggu, Vian!” Apa? dia
tau nama gue! Tapi kok bisa? Gue kira nggak banyak yang kenal gue. Ternyata gue
lumayan terkenal juga, hehehe. pikirnya.
“nggak tau
nih!” jawab Vian sekenanya.
Selang
beberapa menit ponsel Vian berdering. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan
melihat nama yang tertera di layar. Bang
Ajis. Gumamnya.
“non Vian,
maaf bang Ajis nggak bisa jemput. Soalnya motornya mogok. Sekarang lagi di
bengkel. Non Vian bisa bareng temen non ajah.” Kata bang Ajis di dalam telpon.
Terdengar suara bising menandakan sekarang bang Ajis memang berada di bengkel.
“yasudah
bang Ajis!” nadanya sedikit kecewa.
Seakan
mengerti pikiran Vian, Rain menawari untuk pulang bareng dengannya lagi.
Akhirnya Vian menerima tawaran Rain. Selama perjalanan tak ada sepatah kata pun
yang terlontar dimulut keduanya. Rain tak lagi menatap Vian seperti yang Vian
alami.
“thanks
udah ngaterin gue!” kata Vian setelah ia sampai di depan rumahnya.
“iya
sama-sama” balas Rain simple.
“hati-hati!
Ketika Vian berbalik badan dan
tiba-tiba Rain menarik tangan Vian. Ia merasakan tangan Rain menyentuh
tangannya, jangtungnya berdebar-debar seolah-olah ingin melompat keluar dari
tubuhnya, badan kaku, lidah terasa kelu, tatapan Rain yang pernah ia rasakan
terjadi lagi. Tatapan yang tak biasa terbaca oleh Vian. Rain masih memegang
tangan Vian dan terus menatapnya. Seandainya Tuhan mengijinkan untuk pingsan
saat ini, Vian rela. Keheningan terjadi cukup lama. Tatapan mata Rain membuat
Vian tak berdaya, bahkan saat ini pikiran Vian tak terkendali.
“Vian…” kata Rain lembut, akhirnya ia membuka suara
setelah keheningan yang cukup lama. Vian yang mendengar namanya tersebut tak bisa
berbuat apa-apa. Ia pasrah.
“maaf, gue
ninggalin elo!”
Ada apa
dengan Rain? Kenapa dia minta maaf? Apa Rain melakukan kesalahan terhadap Vian?
Vian yang mendengar perkataan Rain rasanya tak mampu merespon.
“gue tau,
gue salah. Seharusnya dulu gue sadar. Gue itu tolol!”
Vian
menyadari suatu hal. Pikirannya berputar-putar ke masa lalu. Ia akhirnya mampu
mengingat MEMORI YANG PERNAH HILANG. Rain adalah teman SD Vian yang pernah di sukainya.
Bertahun-tahun ia melupakan Rain dan tak pernah bertemu sampai sekarang. Vian
tak menyadari kalau orang yang pernah disukainya satu sekolah. Tapi, kenapa
Vian baru menyadari kalau itu dia? Vian bego!
“Rain?”
sebut Vian. Hatinya luruh. Air mata Vian mulai membasahi pipi tirusnya. Rain
adalah seseorang yang pernah berarti di hidup Vian. Ia kecewa ketika Rain lebih
menyukai Maya, sahabat Vian. Maya dan Vian bersahabat dari kecil dan beberapa
tahun ini, mereka jarang kontek-kontekan karena kesibuakan masing-masing.
“ia
ini gue Rain… gue minta maaf dulu gue ngedeketin elo cuman untuk manfaatin elo.
Karena elo gue bisa tau semua tentang Maya. Gue emang dulu suka sama Maya.
Setelah gue ngejalani, ada sesuatu yang hilang…. yaitu kamu, Vian! Kedekatan
kita dulu itu, ada sesuatu yang tak pernah kita sadari. Setelah elo pergi dari
hidup gue. Dan gue tau sekarang, elo yang gue butuhin. Gue nggak pernah sadar
kalau kedekatan kita itu, berarti di hidup gue. Gue nggak tau apa elo
ngerasaain hal yang sama. Gue pengen elo tau… AKU CINTA KAMU!”
Air
mata Vian terus keluar dari mata bulatnya, ia merasakan hal yang sama.
Seseorang yang sempat ia lupakan dari pikirannya. Ia tak sanggup berkata
apa-apa. Ia merindukan seseorang yang pernah mengisi hatinya, merubah hidupnya
dan telah memberi arti cinta. Vian
memeluk Rain dengan hangat. Ia menangis dalam pelukan Rain.
*the end*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar